Kamis, 03 November 2011

Cat Jari dan Krayon

Cerpen ini saya ambil lagi dari buku kumpulan cerpen terjemahan Chicken Soup, seperti cerpen sebelumnya. Kali ini saya ambil cerpen karangan Cheryl Costello, judulnya Cat Jari dan Krayon. Saat pertama kali membacanya, saya juga bingung apa makna yang mau disampaikan penulis, tapi setelah saya pahami, ternyata cerpen ini mengangkat tema perbedaan warna kulit :) 

       Dengan kapur ia menuliskan namanya di papan tulis kosong. Lalu duduk di mejanya tanpa banyak omong. Selama lima belas menit, tanpa berkata-kata. Sampai murid terakhir, duduk tak bersuara. Lalu ia berdiri di depan mereka, dan memberitahukan namanya. Kemudian dengan sopan meminta, setiap murid melakukan hal serupa. Lalu tanpa keraguan, ia mengambil setumpuk kertas dari dalam tasnya. Dan membaginya menjadi dua, satu putih, yang lain hitam.
       Dan sengaja perlahan, dengan senyum bermakna tak jelas, Ia mulai membagikan kertas, di seluruh kelas. Dan setelah semua mendapat selembar; ia meneruskan di depan mereka. Mengambil dua tumpuk krayon, satu putih, satu hitam jelaga. Dan mengambil sebuah lukisan, dari balik meja. Lalu memasang celemek pelukis, di atas gaun birunya.
       Dan kepada semua, ia berbicara dengan nada tenang, “Sudah bertahun-tahun aku melukisnya, di rumahku”, Ia berdiri menatap lukisan itu, warna-warni cerahnya menyatu. Di atas cakrawala luas, bertengger matahari bak ratu. Memang bukan karya Rembrandt, Piccaso, atau Michelangelo yang permai. Tapi tetap indah; kehadirannya memancarkan damai. Dan lukisan itu pasti telah memakan begitu banyak waktu. Setiap warna yang ada, seolah menyatu
       Karena itu amat mengherankan,apa yang disaksikan mereka. Tindakan yang mengejutkan, dilakukan tepat di depan mata semua. Dengan cat jari yang kini terkumpul, dan terbuka di atas meja. Ia menorehkan di tangan, warna tanpa batas. Lalu seperti kehilangan akal, mencoretkannya di kertas. Lukisan yang tadi begitu indah . . . kini tampak memelas. Sama sekali tak masuk akal, mereka tidak mengerti
       Saat duduk dan melihat guru mereka, menyeka tangan dari lumuran cat kelam. Lalu ia mengambil krayon, dan membagikannya ke seluruh meja. Dan menyerahkan pada setiap murid, warna pilihannya. “Sekarang,” katanya pada mereka, “Aku ingin kalian sendiri, Menciptakan lukisan penuh keindahan, tanpa rasa benci.”
       Mulut-mulut membuka lebar; gumam memenuhi ruangan mereka. Dan murid saling pandang, saat pertanyaan tak terucap bergema. Karena murid dengan kertas putih, diberi krayon berwarna serupa. Dan murid dengan krayon hitam, diberi kertas berwarna senada
Dan bagaiman bisa tercipta karya indah, tanpa nuansa warna-warni. Mereka merasa yakin, sang guru sedang menguji
       ‘’Guru,” terdengar seorang murid, “aku tak yakin bisa membuatnya”. Menatap krayon putih, dan kertas putih di tangannya
       Sunyi menyelimuti ruang; merayap perlahan. Membuat suara lembut sang guru, meledak mengejutkan.
       “Kalian semua punya masalah serupa, kalian semua punya kemampuan menyelesaikannya. Tapi hanya murid berpikiran terbuka, akan bisa menyelesaikannya.”
       Menit-menit berlalu, kelas hampir selesai. Dan tak ada satupun murid, tahu cara memulai. Dan ketika bel berdering, dan mereka bergegas berdiri. Sang guru berkata tegas, menyuruh mereka kembali.
       “Sebelum meninggalkan kelas ini, aku rasa kalian semua harus tahu. Untuk tugas ini kalian gagal, karena tak ada upaya, tak ada yang mau. Dan besok serta hari berikutnya, tugas kalian tetap ini. Dan mereka yang gagal di kelasku, hanya bisa menyalahkan diri sendiri.”
       Keesokan hari serta lusa, para murid tak tahu bagaiman cara melakukan. Sampai akhirnya, sebuah pemecahan, mulai muncul ke permukaan. Ketika seorang murid dengan krayonnya, dan kertas yang sama berwarna hitam. Menoleh kepada murid di belakangnya dan bertanya, “Boleh aku pinjam?”
       Murid itu ragu, tapi lalu menyerahkan krayon putihnya. Dan akhirnya tugas itu, tak lagi terlihat seperti bencana. Karena semua murid yang ada, saling menukar krayon di seluruh kelas. Dan yakin telah menemukan jawaban, wajah mereka ceria lepas. Dan tepat ketika semua murid mulai menggambar, di atas halaman kosong. Guru yang tadinya mulai mereka anggap, agak berotak kosong, Mengumpulakan semua lembarn dank rayon, tanpa komentar
Lalu berbicara keras, 
       “Terima kasih, kalian telah membuat harapan di hatiku mekar. Ketahuilah, aku ingin kalian sadar, jika ingin mencipta Lukisan penuh keindahan, tanpa kebencian yang tertera. Pertama-tama kalian harus mengakui, bahwa memang ada masalah. Dan bahwa pemecahannya, bisa ditemukan di antara kalian, di tengah-tengah. Dan bahwa rasialisme adalah sebuah masalah, kita semua harus menghadapinya. Bekerja sama sebagai satu kesatuan, sebelum telanjur membayar akibatnya. Dan dengan mata terbuka serta hati terbuka, kita harus melihat menusianya, bukan warna kulit mereka. Dan memahami, bahwa rasialisme harus harus berakhir, segera.
       Karena bersama kita satu keluarga, kita menangis meneteskan air mata, kita semua merasakan duka laraDan meski kita seolah tak merasakannya, itulah kenyataannya. Karena krayon hanyalah warna, demikian juga warna kulit kita semua.”
       Murid-murid melihat ke sekeliling ruangan, berbagai warna pada kulit mereka. Ketika pesan yang ingin disampaikan, mulai terbuka. Bahwa masing-masing sedang mencoba merenungkan: bahwa memang mereka sama. Gemeresak kertas bergeser, dan deham di seluruh ruangan kelas. Menggambarkan sesuatu yang penting, bahwa memperebutkan krayon adalah perbuatan bodoh dan culas. Saat itulah semua sadar, makna kertas dan krayon satu warna. Untuk membuktikan bahwa semua butuh warna yang lain, untuk membantu mengisi kekosongan kertas mereka.

       Keheningan menyelimuti ruangan, ketika seorang murid mengacungkan jari. Lalu berbicara penuh keraguan, 
       “Tapi aku tidak mengerti… Kenapa kau mengambil lukisanmu, yang tampaknya sangat kausukai, Mengumpulkan cat jarimu, dan menghancurkannya sekali jadi.”
       Kesedihan memenuhi wajah sang guru, di pipi berderai air mata duka
Dan dalam kata-kata pelan penuh perasaan, ia mulai bicara
“Untuk menunjukkan kepada kalian bahwa semua warna-warna bisa indah, tapi juga bisa menghancurkan diri. Semua karya dan kesayangan kita,semua yang kita nikmati. Dan dengan menghancurkan sesuatu yang aku sayangi, untuk menunjukkan pada kalian semua . Bahwa rasialisme menghancurkan keindahan dalam diri kita juga, Dan bahwa berkelahi karena warna , adalah tindakan merusak jiwa.”


With love,
Dedott :*
  

AAL* #4

AMARAH SENYUM DAN AIR MATA
by Alone At Last*

Tangisi saat ku tak ada di sini
Putus hasratku takkan mati
Puisiku palsu penuh kecewa
Pilah pengaman doktrinmu
Kunci mulutku ~ Cinta hulu ledakku
Sumbui hangat bunyi lidahmu
Timpa tanganku dan

Sisakanlah ~~  tangisi hidupku
Kelam ~~ tangisi waktuku
Pekatkanlah ~~ tangisi lakumu
Kaca ~~ tangisi asaku
Jangan percaya

Apikan rasa benci tertekan
Ancaman terdengar pelan
Halangi langkah masa depanmu dan

Sisakanlah ~~  tangisi hidupku
Kelam ~~ tangisi waktuku
Pekatkanlah ~~ tangisi lakumu
Kaca ~~ tangisi asaku

Jangan percaya
Jangan pernah terlintas
Jangan melangkah lepas
Bila melihat cinta
Jangan menahan marah
Jiwa inginkan hampa
Deras alirkan luka derita

Nyawa perih tanganku terpisah
Paku lamanya sakitku terlintas
Campakkan semua janji palsuku
Omong kosong mentah itu janjiku
Anjing! Kalimat yang terlintas
Saat fokus hancurnya  hidupku
Mulai kuhujam cara yang sama
Ampunan langkah semua siksa

With love,
Dedott :*

Rabu, 02 November 2011

Memudar Cepat


Cerpen ini saya ambil dari buku kumpulan cerpen terjemahan, Chicken Soup, yang di dalamnya berisi banyak cerpen yang semuanya adalah pengalaman pribadi sang penulis. Cerita-ceritanya sangat memotivasi, dan salah satu yang saya ambil ini judulnya Memudar Perlahan, karya Kendal Kelly. Cerpen ini kadang saya baca saat saya baru saja kehilangan seseorang. Cerpen ini bisa menguatkan saya, dan mengajarkan saya, bahwa kehilangan tidak sesakit yang saya kira sebelumnya :) 

Saat menunduk bagian dalam sepatu lari Strawberry Shortcake-ku, aku sadar namanya, Forrest David, sudah memudar. Kutelurusi tanda tangannya dengan jariku, mengingat hari ketika ia menandatangani sepatuku dengan pena ayahnya saat aku duduk di bandara Austin, air mata mengaburkan penglihatanku.
          Itulah yang ia lakukan, pikirku, perlahan memudar dari kehidupanku. Namun aku tetap mengingat semuanya, setiap saat aku bersamanya, membayangkan semua gerakan, senyum, dan ciumannya. Aku tidak pernah berpikir seseorang bisa begitu berarti bagiku. Ia begitu menawan hingga hatiku nyeri saat aku menatapnya. Tapi sekarang memikirkannya saja sudah menyakitkan. Kuingat-ingat wajahnya: alis gelap, mata biru-kehijauan, rambut kusut. Tangannya, coklat terbakar matahari dan kuat, bisa membungkus tanganku sendiri. Aku tidak pernah mencintai orang lain seperti aku mencintai Forrest.
          Pertama kali melihatnya, aku berdiri diam, meresapi kehadirannya. Dan ketika akhirnya memilikinya, aku nyaris menangis karena tak pernah merasa begitu hidup. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana memeluknya, menghirup aromanya dengan wajah menempel di kemejanya. Aku tahu aku tak ingin melepaskannya.
          Aku menangis pahit pada hari kami berpisah, merasa sangat sendirian ketika melihat ia menghilang di terminal bandara. Aku merasakan asinnya air mataku, sangat marah pada dunia dan kehidupan. Aku sudah menemukan cintaku, pria yang akan mendampingiku selamanya, dan hidup telah memilih untuk bersikap kejam dan tidak adil, saling memisahkan kami sejauh sembilan ratus lima enam puluh kilometer. Sama saja seperti lima belas juta kilometer. Aku merasa hatiku akan hancur.
      Aku menghela napas ketika mengingat kenangan menyakitkan itu, tapi aku tidak menangis. Aku tidak punya air mata lagi untuknya.
          Mereka bilang cinta sejati takkan pernah sirna. Aku tidak tahu definisi yang tepat untuk perasaanku, tapi bagiku Forrest-lah yang paling mendekati kategori itu. Ia sekarang sudah pergi, dan mimpiku pecah berderai karena kenyataan yang kejam. Tadinya kupikir kami ditakdirkan untuk bersama selamanya, dan aku sangat mencintainya. Dua remaja yang hidup saling berjauhan seperti kami biasanya takkan berhasil menjalin hubungan. Kupikir kami akan lain, kami akan cukup kuat untuk menghadapinya. Aku salah. Ketika pergi, ia membawa sekeping hatiku bersamanya. Dan kepingan hatiku kini melayang-layang di suatu tempat di Austin.
          Selama beberapa saat aku tidak bisa makan atau tidur. Aku merasa begitu mual dan kosong. Aku merasa takkan bisa meneruskan hidup tanpa dirinya. Kini, ketika mengenangnya kembali, aku melihat bahwa saat itu adalah waktu berkabung—aku berkabung atas hilangnya hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun. Waktu itu aku merasa deritaku takkan pernah berakhir.
          Lalu, suatu pagi aku bangun, dan perasaan mual di perutku hilang. Saat itulah aku tahu aku akan baik-baik saja, bahwa aku tidak lagi memerlukannya. Aku mulai hidup lagi. Saat kukenang lagi, satu-satunya pemberiannya yang akan bisa selamanya ku bawa adalah kekuatan jiwaku yang kutemukan dengan bantuannya. Kekuatan itu akan mendampingiku menghadapi semua rasa sakit, semua luka, dan aku akan selamat. Aku memilikinya sejak dulu; aku hanya tak bisa benar-benar menemukannya. Terima kasih, Forrest.
          Aku tersenyum ketika mengingatnya, dan kemudian perlahan melepaskan sepatu lariku serta melupakannya.

With love, 
Dedott :*

Apakah MP3 Playermu Bisa Menyebabkan Kamu Tuli?

     Mendengarkan musik keras dalam periode waktu lama bisa mengakibatkan kehilangan pendengaran sekunder yang searah sampai merusak sel rambut halus di dalam telinga bagian dalam (cochlea). Karena para remaja cenderung senang mendengarkan musik keras, maka mereka beresiko tinggi mengalaminya. Orang yang lebih suka dengan headphone bergaya earbud dari pada variasi yang over the ear, mendengar  lebih banyak suara latar belakang dan akan mengeraskan volume MP3-nya agar bisa mendengarkan musik secara lebih baik.

           Tanda-tanda kehilangan pendengaran mencakup hal-hal berikut:
1.        Beranggapan bahwa orang sedang bergumam atau berbicara tidak jelas, padahal pada kenyataannya mereka berbicara normal.
2.       Meningkatkan volume televisi atau radio, padahal orang lain bisa mendengarnya dengan jelas.
3.       Seringkali meminta oang yang sedang bicara dengan kamu untuk mengulangnya, karena kamu tidak mendengar dengan jelas apa yang  mereka katakan pertama kali, dan
4.      Ada suara denging pada telingamu.
Walaupun sungguh menyenangkan mendengarkan musik keras dalam jangka waktu pendek, namun mendengar musik yang sangat kerasbisa menyebabkan kerusakan permanen. Jadi, bersikap cerdiklah dan turunkan volumenya J

With love, 
Dedott :*

Selasa, 01 November 2011

Tentang Menulis

       Sebenarnya, saya tidak pandai menulis. Tapi saya suka :) Merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, begitu seterusnya. Rasanya menyenangkan mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita ke dalam tulisan. Entah itu sekadar perasaan kita, kegiatan kita, atau cerpen, ya apapun yang kita mau. 
       Kebiasaan saya menulis di mulai sejak SD. Mungkin sekitar kelas 4 atau 5. Mama saya memang selalu mengajak anak-anaknya untuk gemar membaca. Dulu saya sempat langganan majalah Bobo, yang tokohnya kelinci lucu berwarna biru itu. Dari kebiasaan membaca itulah, lama-kelamaan saya jadi tertarik untuk menulis. Awalnya hanya sebatas menulis di buku diary, dimulai dengan kata-kata "Dear Diary..." haha, saya jadi ingat buku harian saya sewaktu SD. Saya punya banyak sekali buku harian, yang rata-rata berisi kegiatan saya sehari-hari. Cerita saya di rumah, di sekolah, bersama teman-teman, cinta monyet, sampai cinta kingkongnya. 
       Saat saya membaca buku diary itu lagi, saya jadi kepikiran untuk membuat cerpen. Dulu memang masih sederhana, tapi sudah ada beberapa pembaca setia saya, tentu saja teman-teman dekat saya, hehe. Mereka bilang tulisan saya bagus, (walaupun saya yakin kenyataannya tidak sebagus itu :p ) dan mereka terus memotivasi saya untuk menulis. Begitu juga dengan Mama, kebetulan karena beliau seorang guru Bahasa Indonesia, saya banyak belajar tentang bagaimana menulis yang baik. 
       Namun karena waktu saya SMP saya lebih fokus ke dunia olahraga, yaitu bola voli, saya lebih sering mengabaikan dunia tulis menulis ini. Saat masuk SMA, saya juga sudah tidak terlalu tertarik untuk menulis. Paling-paling saya masih gemar membuat puisi dari pada menulis cerpen atau artikel seperti dulu. Menurut saya membuat puisi itu malah lebih mudah, karena saat sedang diam pun kadang saya mendapat inspirasi, saya menyebutnya ilham :D hehe.
       Beberapa waktu lalu, saya meminta salah satu teman dekat saya semasa SD untuk membuka blog saya ini. Saya ingin mendengar pendapat dia mengenai tulisan saya sekarang. Dan setelah membacanya, dia menelephone saya. 
       "Tulisan kamu bagus-bagus kok. Kamu tetep pinter nulis kayak dulu." Ujarnya. Saya hanya tertawa dipuji seperti itu. Saya tahu, dia orangnya memang pandai memuji.
       "Tapi ada yang lain ya rasanya.." Lanjutnya lagi. 
       "Oya? Lain gimana maksudnya?" Tanya saya penasaran.
      "Waktu aku baca tulisan kamu, aku nangkep auranya kok sedih ya? Suram gitu lho. Gaya bahasa yang kamu pake sekarang beda deh dari yang dulu. Sekarang lebih dalem, tapi sedih. Eh kamu inget nggak, cerpen kamu yang judulnya Biru Muda? Itu salah satu favorit aku. Aku seneng sama cara kamu ceritanya, ceria, polos, masa kecil yang bahagia. Enggak kayak yang sekarang itu. Kamu kalo cerita yang bikin orang lain seneng dong, jangan malah bikin nangis, hehe.."
     Saat saya mencermati komentar teman saya itu, saya merasa memang ada benarnya juga. Gaya saya bercerita berbeda dari dulu. Dulu saya selalu bercerita tentang hal yang menyenangkan, yang gembira. Mungkin kalau dulu, saya sebagai anak kecil, memang yang ada di pikiran saya cuma kegembiraan. Matahari cerah yang terbit tiap pagi, kupu-kupu di taman yang penuh bunga, kasih sayang orang tua, pelangi setelah hujan reda.. ya hal semacam itulah. 
      Kalau sekarang, mungkin karena saya sudah mulai berfikir lebih dewasa, sudah tahu rasanya kehilangan, disakiti, dan sebagainya yang menyakitkan, cara saya bercerita lebih didominasi hal-hal seperti itu. Tapi saya selalu menerima kritik dan saran dari teman-teman ataupun pembaca yang membaca tulisan saya ini. Saya masih muda (jiaah :p ) masih awam dan hijau dalam dunia pena ini. Masih banyak yang perlu saya perbaiki, masih banyak yang harus saya pelajari. Jadi harap dimaklumi kalau kemampuan saya menulis masih ecek-ecek alias tingkat bawah.
      Sekarang, menulis hanya saya lakukan sebagai hobi saja. Menanggapi komentar teman saya tadi, saya jadi kepikiran untuk membuat tulisan yang berkesan 'menyenangkan' seperti dulu. Dan saat ini saya masih dalam tahap mencari ilham, haha :D 
        Hey ilham, dimana kamuuuu? 

With love, 
Dedott :*