Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

Satu Cinta Abadi

Cerita ini aku ambil dari salah satu cerpen di novel Chicken Soup for The Soul edisi Happily Ever After :)


Satu Cinta Abadi

Seperti kau lihat,setiap hari aku semakin mencintaimu.
Hari ini lebih besar dai kemarin dan lebih sedikit dari pada hari esok.
-RESAMONDE GERARD

       Salah satu pasien favorit kami telah beberapa kali keluar masuk rumah sakit kecil kami di pinggiran, dan kami semua di bagian operasi-medis sudah menjadi cukup akrab dengannya serta suaminya. Meski mengidap kanker parah serta rasa sakit yang diakibatkannya, dia selalu memberikan senyuman atau pelukan kepada kami. Setiap kali suaminya datang berkunjung, dia berbinar. Sang suami pria yang baik, sangat sopan, serta seramah sang istri. Aku menjadi cukup akrab dengan mereka dan selalu senang merawat perempuan itu.
       Aku mengagumi ekspresi cinta mereka. Setiap hari sang suami membawakan istrinya bunga segar dan senyuman, lalu duduk di sebelah tempat tidurnya saat mereka berpegangan tangan dan berbicara tenang. Ketika rasa sakit menjadi teramat sangat dan sang istri menangis atau menjadi bingung, sang suami dengan lembut memeluknya dan berbisik hingga sang istri bisa beristirahat. Dia menghabiskan setiap waktu yang ada di samping tempat tidur sang istri, membantunya menyeruput sedikit air dan membelai alisnya. Setiap malam, sebelum pulang, sang suami menutup pintu sehingga mereka bisa menghabiskan waktu hanya berdua. Setelah dia pergi, kami akan mendapati sang istri tidur dengan damai dengan senyuman di bibirnya.
       Namun, malam ini segala sesuatunya berbeda. Begitu aku memasukkan laporan, para perawat siang memberitahu kami kondisi perempuan itu terus memburuk dan tak akan bisa melewati malam. Meski sedih, aku tahu inilah yang terbaik. Setidaknya temanku tidak akan lagi merasa sakit.
       Aku meninggalkan laporan dan terlebih dulu memeriksa perempuan itu. Saat aku memasuki ruangan, dia bangun dan tersenyum lemah, namun napasnya berat dan aku bisa melihat itu tidak akan berlangsung lama. Sang suami duduk di sebelahnya, juga tersenyum, dan berkata, "Kekasiku akhirnya akan mendapatkan hadiahnya."
       Mataku berkaca-kaca, jadi aku bertanya apakah mereka membutuhkan sesuatu dan langsung pergi. Sepanjang malam aku menawarkan perawatan dan ketenangan, dan sekitar tengah malam perempuan itu meninggal dengan tangan sang suami masih menggenggeam tangannya. Aku menghibur lelaki itu, dan dengan air mata mengalir di pipi dia berkata, "Bolehkah aku sejenak bersamanya saja?" Aku memeluknya dan menutup pintu di belakangku.
       Aku berdiri di luar ruangan, mengusap air mata dan merindukan temanku serta senyumannya. Dan aku bisa merasakan kepedihan sang suami di hatiku sendiri. Tiba-tiba dari dalam ruangan muncul suara pria paling indah yang pernah kudengar sedang menyanyi. Betapa suara itu mengalun menembus lorong, sungguh nyaris menghantui. Semua perawat lain keluar ke lorong untuk mendengarkan saat pria itu menyanyikan "Beautiful Brown Eyes" dengan suara sangat lantang.
       Ketika nada itu melemah, pintu terbuka dan pria itu memanggilku. Dia menatap mataku dan memelukku sambil berkata, "Aku menyanyikan lagu itu untuknya setiap malam sejak pertama kali kami bertemu. Biasanya aku menutup pintu dan merendahkan suaraku sehingga tidak mengganggu pasien lainnya. Tapi aku harus memastikan malam ini dia mendengarku karena dia sedang dalam perjalanan ke surga. Dia harus tahu dia akan selalu menjadi cinta abadiku. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada siapa saja yang sudah terganggu. Aku hanya tidak tahu bagaimana akan menghadapi hidup tanpa dirinya, tapi aku akan terus menyanyi setiap malam untuknya. Apakah menurutmu dia akan mendengarku?"
       Aku menganggukkan kepala "ya", tak mampu menghentikan air mataku. Dia kembali memelukku, mencium pipiku dan berterimakasih kepadaku karena sudah menjadi perawat serta teman mereka. Dia juga berterimakasih kepada para perawat lain, lalu berbalik dan menyusuri lorong, punggungnya terkulai, bersiul menyanyikan lagu itu.
       Ketika melihatnya pergi, aku berdoa akupun suatu hari nanti akan mengenal cinta semacam itu.

oleh Christy M. Martin


With love, 
Dedott :)

Jumat, 13 Januari 2012

Karunia Kanker Otak

       Bulan Agustus 2002 aku menerima hadiah terbesar dalam hidupku ketika aku divonis menderita kanker otak tahap akhir dan akan meninggal dalam empat sampai enam bulan. Ketika ini terjadi, aku baru lima bulan menikah. Karierku sedang berjalam dengan baik, keluarga dan teman-teman mencintaiku. Aku belum pernah sebahagia itu. Jadi, mengapa ini adalah karunia besar? Mengapa?
       Karena aku harus menghadapi kematianku.
       Saat itu tengah malam di bulan Januari 2003. Aku berjalan di luar, di tengah cuaca dingin, seorang diri dan merasa pahit. Percobaan klinis yang telah aku masuki penuh dengan ketidakpastian dan bahaya. Aku hanya bisa berpartisipasi karena penyakitku sudah berada ditahap akhir, kemungkinan hidupku sudah minimal. Aku bingung, selalu mual, dan nyaris tidak bisa berjalan, bahkan dengan bantuan tongkat sekalipun. 
       Aku sangat marah pada situasiku: Aku membenci kankerku, para dokter, dan Tuhan. Aku menemukan diriku menjerit, menangis dan mengamuk melawan ketidakadilan. Untuk pertama kalinya dalam 54 tahun, akhirnya aku menemukan kebahagiaan hidupku, dan sekarang penyakit yang mengerikan ini akan mencabutku, bukan hanya dari kebahagiaan hidup, tetapi juga kestabilan, kenyamanan, atau kedamaian. Apakah aku ditakdirkan untuk terpincang-pincang membusuk setiap hari menuju kuburan yang dingin?
      Kemudian tiba-tiba, di tengah kekacauan, muncul sebuah suara ilhami dari seorang teman lama, majikan, dan mentor, W. Clemen Stone, salah satu dari orang-orang pertama yang menulis tentang Positive Mental Attitude (Sikap Mental Positif), atau PMA. Di benakku, aku bisa mendengar dia berkata, seperti yang telah dilakukannya ribuan kali: "Bagi mereka yang memiliki Sikap Mental yang Positif, setiap kejadian buruk mengandung benih dari manfaat yang setara, atau lebih bear lagi."
       Apa?
       Kau serius?
       Manfaat yang lebih besar?
       Apa manfaat yang lebih besar dari sekarat kanker otak, Pak Tua?
       Kata-katanya terus bergema di bagian otakku yang masih  berfungsi. Bukan hanya beberapa kejadian buuk, katanya, tapi semuanya, SETIAP kejadian buruk, mengandung benih manfaat yang setara atau lebih besar! Ah, dia pasti bergurau!
       Untungnya, setelah bertahun-tahun perannya sebagai mentor, guru, dan pahlawan, paling sedkit dia elah meninggalkan bekas-- kata-kata "Aku berpikir rasional" memancar seperti sinar matahari di atas kepalaku. Dia sering menggunakan kata-kata itu--sering sekali dalam menggambarkan situasi kritis yang dia hadapi dalam hidupnya. Pernah kepalanya diacungi pistol oleh seorang yang putus asa dan depresi, yang memberitahu bahwa dia akan kehilangan segalanya-- dia akan membunuh Mr. Stone, lalu membunuh dirinya sendiri. Jika kebanyakan orang panik, Mr. Stone berkata dengan tenang, "Aku berpikir rasional," kemudian melanjutkan dengan memikirkan rencana yang logis, bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri tetapi juga orang itu. Kelak dia menempatkan orang itu dalam bisnisnya, dimana dia menjadi sukses dan makmur selama sisa hidupnya.
       "Jadi," kataku kepada diriku sendiri,"Ayo berpikir." Langsung saja aku merasa damai dan rasional-- untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. 
       Jadi... apa saja kemungkinannya bagiku? Bagaimanapun, hidup pada titik itu tidak harus menyediakan banyak pilihan yang bagus. Jelas aku tidak punya pilihan untuk 'hidup bahagia selamanya'-- atau apakah aku memilikinya?
       Kenyataannya, salah satu dari dua hal ini akan terjadi: Aku akan meninggal dalam waktu yang tidak lama lagi, atau yang lebih sedikit kemungkinannya, aku akan hidup panjang.
       Jadi, bagaimana jika aku meninggal tidak lama lagi?
       "Aku berpikir" jika aku menjadi sedih dan marah, maka aku akan menghabiskan beberapa bulan terakhir hidupku di dalam kesedihan dan keterasingan, menciptakan neraka hidup bagi orang-orang yang kucintai, dan akan dikenang, kalaupun aku dikenang, sebagai seorang pria tua menyedihkan yang membiarkan kanker otak mengalahkannya. Untuk sementara mereka menunjukkan simpatinya, tetapi pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa tidak suka padaku dan pada caraku meninggalkan mereka. 
       Di sisi lain, bagaimana jika aku positif dan penuh harapan? Itu tidak akan sedikitpun mengubah tanggal kematianku!
       Tetapi, itu berarti aku akan menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupku dengan bernapas dalam-dalam dan  bening, puas, damai, dan mencintai keluarga serta setiap orang yang kutemui. Aku akan meninggal sebagai pria yang bahagia, dan dikenang sebagai jiwa berani yang menghadapi kematian dengan gagah, kuat, dan besar hati. Aku akan dihargai oleh orang-orang yang mengenalku. 
       Di sisi lain, bagaimana jika aku berhasil? Bagaimana jika aku tetap hidup?
       Maka aku tidak punya alasan untuk menjadi pahit karena siksaan! Mengapa menyia-nyiakan berbulan-bulan hidupku dengan mengeluhkan akhir yang belum tentu dekat?
       Jadi, begitulah--aku mempunyai semua alasan untuk bersikap positif terhadap kondisiku, dan sama sekali tidak ada alasan untuk bersikap negatif.
       Pada titik itulah, di saat itu juga, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berhenti sekarat dan mulai hidup.
       Aku mulai menceritakan kepada setiap orang yang kujumpai dan kukenal bahwa mendapatkan kanker otak adalah hal terbesar yang terjadi padaku, dan sampai saat ini aku masih memercayainya sepenuh hati.
       Lebih dari setahun yang lalu, aku mengetahui bbahwa kanker otakku telah kembali. Sekarang ini pengobatannya lebih maju san bisa diduga, prognosanya lebih baik; tetapi hasilnya tidak pernah pasti. Setelah satu tahun radiasi dan kemoterapi, para dokter telah memutuskan melanjutkan kemoterapi untuk waktu yang tak terbatas dan menjadwalkan MRI bulanan untukku, tanpa janji apapun.
       Bagaimana beritayang mengganggu ini memengaruhiku? Berita ini bahkan menjadikanku lebih positif lagi!
       Sejak saar khusus itu-- malam yang gelap dan dingin di bulan Januari 2003, aku tidak menyia-nyiakan satu detikpun dari hidupku untuk mengkhawatirkan kematian. Semua waktu dari hari-hariku kuhabiskan untuk hidup.
       Kanker otak yang telah menjadikanku manusia yang lebih baik. Jadi bagaimana denganmu? Kau akan emngalami hal-hal yang baik dan buruk di dalam hidup. Terkadang hidup akan memberi kita keberuntungan besar, terkadang akan mengoyak kita seperti batu bata yang menghantam wajah. 
       Apa yang terjadi pada kita akan tetap terjadi, dan kita hanya punya dua cara untuk meresponnya-- kita bisa menjadi positif dan bahagia, atau negatif dan bersedih. Itu saja. Kabar gembiranya adalah, pilihannya ada di tangan kita! Kita yang memutuskan seberapa bahagianya kita di setiap hari dari hidup kita, di setiap peristiwa hidup, terlepas dari kapan, apa, dan siapa.
       Hari ini juga buatlah keputusan untuk hidup, bukan untuk mati. Untuk menjadi positif, bukan negatif. Kau tidak perlu mengalami tragedi seperti aku untuk menemukannya. Hiduplah setiap hari, setiap menit, setiap detik dari hidup kita :)


oleh : Tom Schumm

with love,
Dedott :* 



     

Senin, 21 November 2011

Selamanya Berubah

Hidup paling berharga bila dilakukan untuk sesuatu yang bermakna abadi  ~ William James

Setiap bangun tidur aku menyibakkan selimut yang melibat tubuh hangatku dan melihat ke sekeliling kamar. Aku melihat foto-foto keluarga yang penuh kenangan, meja rias mahoni favoritku, dan tentu saja manik-manik kesayanganku yang tergantung d jendela. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dikitari keluarha yang menyayangiku, atau tanpa atap yang mengitariku dari udara malam.

       Bulan Juli lalu, aku mengikuti perjalanan misi ke Monterrey, Mexico, dengan kelompok remajaku. Aku duduk di bus selama dua hari, tidak tahu akan melihat apa. Teman-temanku di bus menggambarkan semua jenis kutu di panti asuhan yang akan emnjadi tempat kerja kami selama satu minggu. Mereka mengatakan betapa kotornya tempat itu dan betapa berbahaya jalan-jalannya. Diam-diam aku berharap, entah bagaimana, bus kami akan berputar balik. Tapi hal itu tak pernah terjadi. Pada malam pertama kedatangan kami, seorang pria berkata, "Kita datang kesini bukan untuk mengubah Mexico, tapi sebaliknya, Mexico akan mengubah kita."

       Setiap pagi, selama setengah jam perjalanan dengan bus menuju panti asuhan, aku memikirkan betapa sebentarnya tidurku semalam, betapa capainya aku, dan betapa panasnya di salam bus yang tidak ber-AC. Tapi, begitu panti asuhan terlihat, semua perasaan itu sirna. Anak-anak penghuninya akan berlarian ke pagar, berteriak, dan melompat-lompat karena akhirnya kami sudah datang. 

       Pada hari pertama aku berjalan hati-hati di dalam pintu loogam panti. Aku melihat seorang gadis kecil dengan wajah tersenyum lebar. Ketika aku berjalan mendekatinya, ia memelukku. Aku melihat ke sekeliling, ke semua anak yang lain. Semua tersenyum. Mereka tidak sedih, atau mengeluhkan hidup serta kondisi mereka. 

       Aku bertemu seorang bocah perempuan di panti asuhan bernama Erica. Ia berambut hitam pendek dan di bawah hidungnya ada parut besar. Aku menggendong dan mengayun-ayun tubuhnya. Ia memekik tertawa. setiap kami datang, ia selalu berlari mendekatiku, memeluk dan menciumku. Aku mulai menunggu-nunggu saat itu. 

       Sepanjang waktu, aku berpikir. Siapa yang tega meninggalkan anak semanis ini? Aku melihat anak-anak yang lain di panti asuhan itu. Mereka tidak bertengkar memperebutkan mainan yang kami bawakan. Malah mereka saling berbagi, karena mereka ingin semua anak merasakan kebahagiaan dengan mainan-mainan baru itu.

       Pada hari terakhir, anak-anak itu menyanyikan lagu untuk kami. Rose, wanita pengurus panti, mengatakan bahwa salah satu dari mereka ingin membagi ceritanya dengan kami. Aku heran ketika Erica maju dan bicara. Ia tersenyumkepadaku dan memulai ceritanya: "Aku sangat bahagia berada di panti asuhan ini. Bahagia, pikirku. Siapa yang akan bahagia tinggal di panti asuhan? "Ketika aku tinggal di rumahku," ia melanjutkan, "Orang tuaku suka memukuliku. Mereka melemparkanku ke dinding dan melukaiku."

       Ketika ia selesai bercerita, aku berlari menghampiri dan mengatakan betapa bangganya aku padanya. Aku menunduk dan memandang luka dekat hidungnya. Sekarang aku tahu apa penyebabnya.

       Aku takkan melupakan hari kepergian kami. Semua menangis. Aku memeluk Erica selama 15 menit, terlalu takut untuk melepaskannya. Aku mencium lukanya, sekali lagi, untuk menghapus kenangannya. Ku katakan bahwa aku mencintainya. Ia berhenti menangis dan tersenyum. Ketika waktu kami dan anak-anak itu sudah habis, mereka kembali melambai-lambaikan tangan dari balik pagar. Kali ini mengucapkan selamat tinggal. 

       Ketika sampai di rumah, aku mengamati kamarku saat membongkar koper. Aku melihat semua pakaianku yang ada di lemari, dengan gantungan berwarna-warni. Di depan mataku berkelebat bayangan lemari Erica yang berisi dua helai blus. Ia mencoba memberiku salah satu boneka binatangnya untuk membalas persahabatan kami. Kukatakan aku tidak memerlukannya. Ia mengatakan ia juga tidak memerlukannya karena mempunyai dua. Erica baru berumur tujuh tahun. Aku akan memerlukan banyak waktu untuk mempelajari apa yang sudah diketahuinya.

oleh  JoLyinn Shopteese


With love,
Dedott :)


Kamis, 10 November 2011

Monolog : Cinta dan Agama


A: “Jadi, bagaimana jawabanmu?”

B: “Sepertinya aku tidak bisa.”

A: “Lho, memangnya kenapa? Kita sudah lama dekat, kau juga pernah bilang tentang perasaanmu, kenapa sekarang kamu menolakku? Apa lagi? Kerjaanku kurang mapan? Wajahku kurang tampan buatmu?”

B: “Pokoknya aku tidak bisa mas, maaf.”

A: “Ya kenapa? Beri aku alasan. Aku kekuranganku?”

B: “Bukan masalah itu... Kamu baik, kamu lelaki mapan, kamu tampan, aku suka. Aku sayang kamu mas, tapi kita berbeda.”

A: “Beda? Beda bagaimana maksudmu?”

B: “Agama kita.”

A: “Agama? Agama kita berbeda? Lalu kenapa kalau agama kita beda? Hanya karena aku Katolik dan kamu Islam, kenapa harus jadi masalah?”

B: “Ya aku tidak bisa. Kamu pikirkan ke depannya dong mas. Umurku hampir 25 tahun, aku pacaran bukan mau main-main lagi. Aku sudah dewasa dan orangtuaku sudah mulai membicarakan tentang pernikahanku. Kalau misal kita pacaran dan nantinya merencanakan pernikahan, orangtuaku tidak bakal setuju mas.”

A: “Hanya gara-gara itu? Ayolah, apanya yang salah?”

B: “Setahuku, memang tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya soal waktu dan keadaan.”

A: “Lalu, kenapa harus kita permasalahkan? Bukankah kita ada di Indonesia, negara yang melihat perbedaan sebagai keindahan? Lagi pula, cinta tidak memandang agama.”

B: “Cinta memang tak memandang agama, tapi kadang cinta gagal menyatukan agama walau dua orang saling jatuh cinta.”

A: “Tapi bagaimana dengan aku, dengan kita?”

B: “Gelap tak mungkin bersatu dengan terang. Aku memang menyayangimu mas, tapi aku tidak bisa mencintai orang yang tidak mencintai Tuhanku.”

A: “Tidak ada istilah Tuhan-ku atau Tuhan-mu. Tuhan ya Tuhan. Dia Esa, satu. Cara kita menyembahnya saja yang berbeda. Apakah seseorang yang mencintai kamu harus memeluk agama yang sama denganmu?”

B: “Bukan seperti itu maksudku mas. Bagiku agamaku, bagimu agamaku. Jalani saja pilihanmu, kita saja yang tidak bisa bersatu.”

A: “Sebenarnya, apa yang salah dari mencintai orang yang tempat ibadahnya berbeda dengan kita?”

B: “Entahlah, aku belum pernah berpikir sejauh itu.”


With love,
Dedott :)



Senin, 07 November 2011

Monolog : Aku dan Hati Nurani

“Hey! Apa yang baru saja kamu lakukan?!”

“Aku? Aku hanya mengambil dompet milik seorang lelaki yang tadi duduk di sebelahku. Kenapa?”

“Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan itu?”

“Apa maksudmu? Tentu saja aku sadar. Aku butuh uang. Aku lelah bekerja sebagai pemulung. Tiap hari berjalan jauh, mengorek tong sampah demi tong sampah hanya untuk mendapat beberapa botol minuman atau kardus-kardus bekas. Yang kudapat tiap harinya tidak begitu banyak,lagi pula, hasil yang kuperoleh tidak sebanding dengan kerja kerasku. Aku hanya mendapat 5000 sampai 7000 rupiah setiap hari. Bukankah itu jumlah yang sangat sedikit?”

“Lalu karena itu kamu mencopet?”

“Aku... Aku tidak mencopet. Aku hanya mengambil saja.”

“Mencuri maksudmu? Bukankah mengambil barang yang bukan milikmu sama saja dengan mencuri? Tentu kau ingat Ibumu pernah mengucapkan hal itu.”

“Tidak, aku tidak mencuri! Ah, sudahlah. Itu tidak penting. Ibuku sangat membutuhkan uang ini. Bulan depan adik perempuanku akan masuk SD, tentu butuh biaya yang sangat banyak. Aku tidak mungkin bisa membantu Ibuku kalau hanya dengan memulung seperti ini. Coba kita lihat, berapa yang ada di dalam sini. Hmm, hanya 100.000 saja? Huh, padahal penampilannya necis, rapi, seperti orang berpunya saja, ternyata yang ada di dalam dompetnya hanya segini?”

“Kau bilang hanya 100.000? Bukankah itu jumlah yang banyak bagimu? Apa kau tidak bangga dengan hasil curian pertamamu?”

“Sudah kubilang aku tidak mencuri! Kau diam sajalah!”

“Baiklah, aku akan diam. Hey, ada kertas yang terselip di dekat uang itu. Apa isinya?”

“Kertas? Ini maksudmu? Mungkin ini surat milik si empunya dompet. Tidak penting. Mungkin lebih baik kubuang saja.”

“Tunggu dulu, siapa tahu itu cek berharga yang bisa dijadikan uang? Bukankah akan lebih menguntungkan bagimu?”

“Benar juga. Baiklah, akan kubuka. Untuk Bapak dan Ibu di desa... Maaf anakmu ini baru memberi kabar. Menyambung surat yang Yusuf kirimkan seminggu yang lalu.. Alah, ini hanya surat biasa! Tidak berguna sama sekali!”

“Jangan banyak bicara, teruskan saja membacanya! Aku ingin tahu apa isi surat itu!”

“Oh.. dasar kau Suara Hati cerewet! Tapi baiklah, asal kau tidak banyak bicara lagi. 

Yusuf ingin memberi tahu kepada Bapak, juga Ibu. Hari kamis yang lalu, Yusuf baru menerima gaji pertama Yusuf sebagai Karyawan tidak tetap. Tidak banyak memang, hanya 500.000 rupiah. Tapi Yusuf bangga, karena akhirnya Yusuf bisa mendapatkan uang dengan hasil keringat Yusuf sendiri. Tapi Pak, Bu, maafkan Yusuf. Yusuf belum bisa mengirimi kalian berdua uang Yusuf ini. Dulu, Yusuf pernah bernadzar, jika Yusuf mendapatkan gaji pertama, seluruh gaji Yusuf itu akan Yusuf sedekahkan kepada mereka yang lebih membutuhkan. 

Sebagian besar hasil gaji tadi Yusuf sumbangkan ke panti asuhan tak jauh dari kantor Yusuf, dan sisanya Yusuf belikan makanan untuk Yusuf bagikan ke anak-anak jalanan yang Yusuf temui kemarin. Yusuf bahagia sekali saat melihat wajah anak-anak yang riang saat Yusuf membagikan nasi bungkus kepada mereka. Walaupun hanya sebungkus nasi, tapi dengan niat yang ikhlas memberi, Yusuf yakin akan besar nilainya di mata Allah.

Uang yang sekarang ada di dompet Yusuf memang tidak seberapa, tapi insyaalloh cukup kalau hanya untuk Yusuf sendiri disini. Doakan anakmu ini, Pak, Bu, supaya Yusuf lebih rajin bekerja, dan bisa secepatnya mengirim uang kepada kalian berdua. Jaga kesehatan Bapak dan Ibu selalu, salam sayang, anakmu, Yusuf Mawardi.”

“Wah, sungguh mulia hati lelaki yang dompetnya kau curi ini. Dia rela menyumbangkan seluruh gajinya untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Ngomong-ngomong, kenapa sekarang kau diam, kawan?”

“Aku... Emm, ternyata, lelaki ini.....”

“Kenapa dengan lelaki ini?”

“Dia.. yang memberiku nasi bungkus di dekat lampu merah 2 hari yang lalu itu.”

“Benarkah? Sungguh kebetulan ya. Dan sekarang, dompet yang isinya tidak seberapa ini, berada ditanganmu? Apa kau bangga telah melakukannya?”

“Aku.. Tapi aku membutuhkan uang ini!”

“Kamu yakin, membutuhkan uang yang tidak halal ini?”

“Kenapa kau terus saja mengurusiku? Aku tidak peduli, yang penting aku butuh..”

Aku hati nuranimu! Aku bertugas mengingatkanmu. Apa kau tahu, Tuhan tidak senang dengan hamba-Nya yang berbuat kelicikan, apa kau tahu seberapa besar dosamu jika mencuri?”

“Aku.. tidak tahu..”

Jika bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal, kenapa kau memilih cara yang kotor? Pikirkanlah lelaki pemilik dompet ini. Dia yang memberimu nasi bungkus dengan uang gajinya itu, dan sisanya yang tinggal sedikit, yang harusnya ia pergunakan untuk pegangan, malah kau curi. Apa kau tidak merasa kalau dirimu benar-benar jahat?”

“Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu sebelumnya...”

“Kenapa kau masih menyangkal? Lalu sekarang, coba pikirkan Ibumu. Mungkin nanti dia bakal senang dengan uang yang kamu beri itu. Kamu bisa saja mengatakan uang itu hasil tabunganmu selama ini, agar dia tidak curiga. Tapi bayangkan seandainya ia tahu yang sebenarnya, bahwa uang ini hasil mencuri? Bagaimana perasaan ibumu? Dia akan sedih, dia akan menangis! Kamu, anaknya satu-satunya, yang ia harapkan sebagai pengganti ayahmu setelah beliau meninggal, seharusnya bisa memberi contoh yang baik bagi adikmu. 

Apa kamu tahu, Ibumu lelah bekerja selama ini sebagai buruh kasar, bangga melihat kerja kerasmua selama ini. Walaupun hanya memulung dan hasilnya tidak banyak, paling tidak itu hasilmu sendiri, dari perbuatan yang halal! Apa kamu tidak mengetahuinya? Ibumu selalu mengajarkanmu untuk selalu bertindak benar, jujur dalam setiap perbuatanmu. Jika sekarang kamu mencuri, bukankah sia-sia semua nasihat beliau?”

Dan hey, kenapa sekarang kau malah memangis?”

“Aku.. Aku sungguh menyesal. Aku menyesal telah melakukan semua ini. Walaupun aku berusaha menyangkal semua yang kau bilang karena aku butuh uang ini, tapi nyatanya memang benar. Aku seharusnya berfikir kalau ini salah dan aku tidak melakukan perbuatan bodoh ini!”

“Sudahlah kawan, hapus segera air matamu. Apa kau tidak malu jika ada yang melihatnya nanti? Seorang lelaki harus tegar, kau tahu kan? Jadi, menurutmu, apa yang sebaiknya kau lakukan sekarang?”

“Emm, aku rasa.. aku harus mengembalikan dompet ini kepada lelaki itu. Aku harus meminta maaf padanya.”

“Meminta maaf? Apa kau tidak takut dia akan marah dan melaporkanmu ke polisi?”

“Tidak, aku tidak takut. Yang penting aku sudah jujur. Seperti nasihat Ibuku, kita tidak perlu takut kalau kita jujur.”

“Bagus! Inilah kamu yang selama ini ku kenal! Sebuah tindakan terpuji bila kita mau mengakui kesalahan kita. Aku bangga menjadi Hati Nurani-mu. Hey, untuk apa masih diam disini? Ayo, cepat kita cari pemilik dompet ini! Siapa tahu dia masih ada di tempat tadi kau mengambilnya.”

“Oh iya benar juga. Hati Nurani..”

“Ya?”

“Terimakasih. Untung aku mendengarkanmu.”


With love, 
Dedott :*

Kamis, 03 November 2011

Cat Jari dan Krayon

Cerpen ini saya ambil lagi dari buku kumpulan cerpen terjemahan Chicken Soup, seperti cerpen sebelumnya. Kali ini saya ambil cerpen karangan Cheryl Costello, judulnya Cat Jari dan Krayon. Saat pertama kali membacanya, saya juga bingung apa makna yang mau disampaikan penulis, tapi setelah saya pahami, ternyata cerpen ini mengangkat tema perbedaan warna kulit :) 

       Dengan kapur ia menuliskan namanya di papan tulis kosong. Lalu duduk di mejanya tanpa banyak omong. Selama lima belas menit, tanpa berkata-kata. Sampai murid terakhir, duduk tak bersuara. Lalu ia berdiri di depan mereka, dan memberitahukan namanya. Kemudian dengan sopan meminta, setiap murid melakukan hal serupa. Lalu tanpa keraguan, ia mengambil setumpuk kertas dari dalam tasnya. Dan membaginya menjadi dua, satu putih, yang lain hitam.
       Dan sengaja perlahan, dengan senyum bermakna tak jelas, Ia mulai membagikan kertas, di seluruh kelas. Dan setelah semua mendapat selembar; ia meneruskan di depan mereka. Mengambil dua tumpuk krayon, satu putih, satu hitam jelaga. Dan mengambil sebuah lukisan, dari balik meja. Lalu memasang celemek pelukis, di atas gaun birunya.
       Dan kepada semua, ia berbicara dengan nada tenang, “Sudah bertahun-tahun aku melukisnya, di rumahku”, Ia berdiri menatap lukisan itu, warna-warni cerahnya menyatu. Di atas cakrawala luas, bertengger matahari bak ratu. Memang bukan karya Rembrandt, Piccaso, atau Michelangelo yang permai. Tapi tetap indah; kehadirannya memancarkan damai. Dan lukisan itu pasti telah memakan begitu banyak waktu. Setiap warna yang ada, seolah menyatu
       Karena itu amat mengherankan,apa yang disaksikan mereka. Tindakan yang mengejutkan, dilakukan tepat di depan mata semua. Dengan cat jari yang kini terkumpul, dan terbuka di atas meja. Ia menorehkan di tangan, warna tanpa batas. Lalu seperti kehilangan akal, mencoretkannya di kertas. Lukisan yang tadi begitu indah . . . kini tampak memelas. Sama sekali tak masuk akal, mereka tidak mengerti
       Saat duduk dan melihat guru mereka, menyeka tangan dari lumuran cat kelam. Lalu ia mengambil krayon, dan membagikannya ke seluruh meja. Dan menyerahkan pada setiap murid, warna pilihannya. “Sekarang,” katanya pada mereka, “Aku ingin kalian sendiri, Menciptakan lukisan penuh keindahan, tanpa rasa benci.”
       Mulut-mulut membuka lebar; gumam memenuhi ruangan mereka. Dan murid saling pandang, saat pertanyaan tak terucap bergema. Karena murid dengan kertas putih, diberi krayon berwarna serupa. Dan murid dengan krayon hitam, diberi kertas berwarna senada
Dan bagaiman bisa tercipta karya indah, tanpa nuansa warna-warni. Mereka merasa yakin, sang guru sedang menguji
       ‘’Guru,” terdengar seorang murid, “aku tak yakin bisa membuatnya”. Menatap krayon putih, dan kertas putih di tangannya
       Sunyi menyelimuti ruang; merayap perlahan. Membuat suara lembut sang guru, meledak mengejutkan.
       “Kalian semua punya masalah serupa, kalian semua punya kemampuan menyelesaikannya. Tapi hanya murid berpikiran terbuka, akan bisa menyelesaikannya.”
       Menit-menit berlalu, kelas hampir selesai. Dan tak ada satupun murid, tahu cara memulai. Dan ketika bel berdering, dan mereka bergegas berdiri. Sang guru berkata tegas, menyuruh mereka kembali.
       “Sebelum meninggalkan kelas ini, aku rasa kalian semua harus tahu. Untuk tugas ini kalian gagal, karena tak ada upaya, tak ada yang mau. Dan besok serta hari berikutnya, tugas kalian tetap ini. Dan mereka yang gagal di kelasku, hanya bisa menyalahkan diri sendiri.”
       Keesokan hari serta lusa, para murid tak tahu bagaiman cara melakukan. Sampai akhirnya, sebuah pemecahan, mulai muncul ke permukaan. Ketika seorang murid dengan krayonnya, dan kertas yang sama berwarna hitam. Menoleh kepada murid di belakangnya dan bertanya, “Boleh aku pinjam?”
       Murid itu ragu, tapi lalu menyerahkan krayon putihnya. Dan akhirnya tugas itu, tak lagi terlihat seperti bencana. Karena semua murid yang ada, saling menukar krayon di seluruh kelas. Dan yakin telah menemukan jawaban, wajah mereka ceria lepas. Dan tepat ketika semua murid mulai menggambar, di atas halaman kosong. Guru yang tadinya mulai mereka anggap, agak berotak kosong, Mengumpulakan semua lembarn dank rayon, tanpa komentar
Lalu berbicara keras, 
       “Terima kasih, kalian telah membuat harapan di hatiku mekar. Ketahuilah, aku ingin kalian sadar, jika ingin mencipta Lukisan penuh keindahan, tanpa kebencian yang tertera. Pertama-tama kalian harus mengakui, bahwa memang ada masalah. Dan bahwa pemecahannya, bisa ditemukan di antara kalian, di tengah-tengah. Dan bahwa rasialisme adalah sebuah masalah, kita semua harus menghadapinya. Bekerja sama sebagai satu kesatuan, sebelum telanjur membayar akibatnya. Dan dengan mata terbuka serta hati terbuka, kita harus melihat menusianya, bukan warna kulit mereka. Dan memahami, bahwa rasialisme harus harus berakhir, segera.
       Karena bersama kita satu keluarga, kita menangis meneteskan air mata, kita semua merasakan duka laraDan meski kita seolah tak merasakannya, itulah kenyataannya. Karena krayon hanyalah warna, demikian juga warna kulit kita semua.”
       Murid-murid melihat ke sekeliling ruangan, berbagai warna pada kulit mereka. Ketika pesan yang ingin disampaikan, mulai terbuka. Bahwa masing-masing sedang mencoba merenungkan: bahwa memang mereka sama. Gemeresak kertas bergeser, dan deham di seluruh ruangan kelas. Menggambarkan sesuatu yang penting, bahwa memperebutkan krayon adalah perbuatan bodoh dan culas. Saat itulah semua sadar, makna kertas dan krayon satu warna. Untuk membuktikan bahwa semua butuh warna yang lain, untuk membantu mengisi kekosongan kertas mereka.

       Keheningan menyelimuti ruangan, ketika seorang murid mengacungkan jari. Lalu berbicara penuh keraguan, 
       “Tapi aku tidak mengerti… Kenapa kau mengambil lukisanmu, yang tampaknya sangat kausukai, Mengumpulkan cat jarimu, dan menghancurkannya sekali jadi.”
       Kesedihan memenuhi wajah sang guru, di pipi berderai air mata duka
Dan dalam kata-kata pelan penuh perasaan, ia mulai bicara
“Untuk menunjukkan kepada kalian bahwa semua warna-warna bisa indah, tapi juga bisa menghancurkan diri. Semua karya dan kesayangan kita,semua yang kita nikmati. Dan dengan menghancurkan sesuatu yang aku sayangi, untuk menunjukkan pada kalian semua . Bahwa rasialisme menghancurkan keindahan dalam diri kita juga, Dan bahwa berkelahi karena warna , adalah tindakan merusak jiwa.”


With love,
Dedott :*
  

Rabu, 02 November 2011

Memudar Cepat


Cerpen ini saya ambil dari buku kumpulan cerpen terjemahan, Chicken Soup, yang di dalamnya berisi banyak cerpen yang semuanya adalah pengalaman pribadi sang penulis. Cerita-ceritanya sangat memotivasi, dan salah satu yang saya ambil ini judulnya Memudar Perlahan, karya Kendal Kelly. Cerpen ini kadang saya baca saat saya baru saja kehilangan seseorang. Cerpen ini bisa menguatkan saya, dan mengajarkan saya, bahwa kehilangan tidak sesakit yang saya kira sebelumnya :) 

Saat menunduk bagian dalam sepatu lari Strawberry Shortcake-ku, aku sadar namanya, Forrest David, sudah memudar. Kutelurusi tanda tangannya dengan jariku, mengingat hari ketika ia menandatangani sepatuku dengan pena ayahnya saat aku duduk di bandara Austin, air mata mengaburkan penglihatanku.
          Itulah yang ia lakukan, pikirku, perlahan memudar dari kehidupanku. Namun aku tetap mengingat semuanya, setiap saat aku bersamanya, membayangkan semua gerakan, senyum, dan ciumannya. Aku tidak pernah berpikir seseorang bisa begitu berarti bagiku. Ia begitu menawan hingga hatiku nyeri saat aku menatapnya. Tapi sekarang memikirkannya saja sudah menyakitkan. Kuingat-ingat wajahnya: alis gelap, mata biru-kehijauan, rambut kusut. Tangannya, coklat terbakar matahari dan kuat, bisa membungkus tanganku sendiri. Aku tidak pernah mencintai orang lain seperti aku mencintai Forrest.
          Pertama kali melihatnya, aku berdiri diam, meresapi kehadirannya. Dan ketika akhirnya memilikinya, aku nyaris menangis karena tak pernah merasa begitu hidup. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana memeluknya, menghirup aromanya dengan wajah menempel di kemejanya. Aku tahu aku tak ingin melepaskannya.
          Aku menangis pahit pada hari kami berpisah, merasa sangat sendirian ketika melihat ia menghilang di terminal bandara. Aku merasakan asinnya air mataku, sangat marah pada dunia dan kehidupan. Aku sudah menemukan cintaku, pria yang akan mendampingiku selamanya, dan hidup telah memilih untuk bersikap kejam dan tidak adil, saling memisahkan kami sejauh sembilan ratus lima enam puluh kilometer. Sama saja seperti lima belas juta kilometer. Aku merasa hatiku akan hancur.
      Aku menghela napas ketika mengingat kenangan menyakitkan itu, tapi aku tidak menangis. Aku tidak punya air mata lagi untuknya.
          Mereka bilang cinta sejati takkan pernah sirna. Aku tidak tahu definisi yang tepat untuk perasaanku, tapi bagiku Forrest-lah yang paling mendekati kategori itu. Ia sekarang sudah pergi, dan mimpiku pecah berderai karena kenyataan yang kejam. Tadinya kupikir kami ditakdirkan untuk bersama selamanya, dan aku sangat mencintainya. Dua remaja yang hidup saling berjauhan seperti kami biasanya takkan berhasil menjalin hubungan. Kupikir kami akan lain, kami akan cukup kuat untuk menghadapinya. Aku salah. Ketika pergi, ia membawa sekeping hatiku bersamanya. Dan kepingan hatiku kini melayang-layang di suatu tempat di Austin.
          Selama beberapa saat aku tidak bisa makan atau tidur. Aku merasa begitu mual dan kosong. Aku merasa takkan bisa meneruskan hidup tanpa dirinya. Kini, ketika mengenangnya kembali, aku melihat bahwa saat itu adalah waktu berkabung—aku berkabung atas hilangnya hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun. Waktu itu aku merasa deritaku takkan pernah berakhir.
          Lalu, suatu pagi aku bangun, dan perasaan mual di perutku hilang. Saat itulah aku tahu aku akan baik-baik saja, bahwa aku tidak lagi memerlukannya. Aku mulai hidup lagi. Saat kukenang lagi, satu-satunya pemberiannya yang akan bisa selamanya ku bawa adalah kekuatan jiwaku yang kutemukan dengan bantuannya. Kekuatan itu akan mendampingiku menghadapi semua rasa sakit, semua luka, dan aku akan selamat. Aku memilikinya sejak dulu; aku hanya tak bisa benar-benar menemukannya. Terima kasih, Forrest.
          Aku tersenyum ketika mengingatnya, dan kemudian perlahan melepaskan sepatu lariku serta melupakannya.

With love, 
Dedott :*

Rabu, 26 Oktober 2011

Senyumnya di Ujung Senja

Sahabat adalah dia yang tetap memilih untuk tinggal disaat semua dunia menjauh ~

       Kakiku menendang debu. Menendang udara. Entahlah. Sejak tadi bergoyang-goyang tak tentu arah. Sebenarnya itu kulakukan untuk mengahalau resahku. Sudah hampir setengah jam kami berdua duduk di sini, dan tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir kami.
       "Aku..." Ucapnya lirih. Penuh keraguan. Ada nada takut dalam suaranya. Tentu saja aku tahu. Aku mengenalnya dengan baik, sebaik aku mengenal diriku sendiri. Aku tetap diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan.
       "Aku nyesel, Na.." Ujarnya. "Aku tahu aku salah. Seharusnya dulu.."
       "Terus kenapa dulu kamu kamu aja dibegoin? Kenapa kamu lebih milih dia dari pada persahabatan kita?!" Tiba-tiba emosiku muncul. Mataku menjadi panas.
       Perempuan di sampingku itu kembali diam. Mungkin dia kaget dengan reaksiku. Kedua tangannya ditangkupkan pada wajahnya. Punggungnya berguncang. Ia menangis. 
       Aku mencoba menenangkan diriku. Sebelum bertemu dengannya tadi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri tak akan terbawa oleh emosi. 
       "Seharusnya..dulu aku dengerin kamu ya, Na. Aku.. Aku bodoh banget. Saat lelaki bajingan itu bilang cinta sama aku, dengan mudahnya aku percaya. Dengan mudahnya aku ambil dia dari kamu. Padahal.. kalian udah pacaran lebih dari dua tahun. Aku hancurin semuanya. Sumpah... aku.. aku emang bego banget." 
       Ia berkata dengan terbata-bata, sesenggukan. Sedangkan aku masih setia dalam diamku, berusaha menahan perasaan yang sejak tadi semakin bergejolak. Kakiku kembali menendang udara. Kunikmati debur ombak dan semilir angin yang berhembus pelan. Dingin. Kurapatkan sweater biruku. 17:23. Mentari sebentar lagi tenggaelam, dan pantai ini semakin sepi. 
       "Aku jahat banget nggak mikirin perasaan kamu. Kamu pasti udah benci sama aku dari awal. Sekarang liat, Rena! Aku hamil 4 bulan. Dia ninggalin aku, semua orang ninggalin aku. Kamu pasti tambah benci kan.... sama aku?" Tanyanya disela tangisnya. 
       "Andaikan ada cara supaya kamu mau maafin aku, apapun itu.... Apapun itu bakal aku lakuin, Na. Aku pengin kita kayak dulu, aku kangen persahabat kita yang dulu. Andai, andai waktu bisa aku ulang.." Tangisnya benar-benar pecah.
       Aku memandang lepas ke arah lautan. Menghela nafas sejenak dan menghembuskannya dengan berat.
      "Kamu tahu nggak Bel, aku nggak pernah benci sama kamu. Dulu aku marahin kamu, bukan karena aku kesel kamu rebut Rio dari aku. Engga sama sekali. Dulu aku cuma minta supaya kamu jangan percaya sama lelaki kayak dia. Cukup aku yang pernah disakitin dia.
       Aku emang sakit hati banget pas kamu akhirnya sama dia. Kamu, sahabatku dari TK! Kita udah sahabatan 15 tahun Bel! aku cuma.. kecewa. Aku tahu busuknya Rio kayak apa, tapi entah kenapa aku nggak bisa lepas dari dia waktu itu. Kita sama-sama bodoh, tapi aku udah sadar, nggak ada gunanya nangisin orang yang bisanya cuma bikin kita capek hati capek pikiran. Kamu liat aku Bella, sakit yang aku rasakan kemarin jadi kekuatanku hari ini. Jadi, lupakan semuanya."
       Bella, sahabatku itu, menghapus air matanya. 
       "Orang lain jauhin aku. Aku udah kotor, aku sampah, Na. Bayi dalam rahimku ini nggak punya ayah saat dia lahir nanti. Kenapa kamu masih peduli sama aku? Aku udah kecewain kamu, tapi kenapa kamu nggak ninggali aku kayak orang lain?"
       Kupandang lagi lautan, kurasakan debur ombaknya, kupandang matahari yang hampir tenggelam itu. Cahaya jingganya menjadikan kami bagai siluet dalam lukisan. 
       Aku menatap matanya. Dalam. Kusentuh tangannya, ku genggam. Bella butuh supportku saat ini. Rasanya akan terlalu egois bila aku hanya mengungkit apa yang membuat kami jadi seperti ini. 
       "Karena sahabat akan memilih tinggal di sampingmu ketika seluruh dunia menjauh."
       Dan dapat kulihat, Senyumnya di ujung senja.

With love, 
Sarithala :*

Selasa, 25 Oktober 2011

"Mama Aku Minta Sembuh"

     "Mukamu tampak pucat hari ini," Ujar temannya memberi tahu. "Bibirmu juga putih sekali. Apa kamu sakit?" 
     Gadis itu hanya menggeleng. "Aku baik-baik saja," Katanya sembari melontarkan senyumnya.
     Sepeninggal temannya, gadis itu mulai berfikir. Apa bedakku kurang tebal hari ini, sehingga wajah pucatku kelihatan? Apa lipgloss yang kupakai juga kurang tebal, sampai-sampai bibirku berwarna putih? Kemudian ia bergegas ke kamar mandi sekolah. 
     Gadis itu berkaca pada cermin kecil di dompetnya. Dan menemukan bahwa wajahnya benar-benar terlihat pucat di cermin itu. Putih seperti mayat. Sial, aku tidak membawa bedak. Umpatnya dalam hati. Ia hanya membawa lipgloss di sakunya. Cepat-cepat dioleskan lipgloss itu ke bibirnya. Tapi toh tetap saja sisa-sisa kepucatan itu masih terlihat.
     Tiba-tiba gadis itu merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dadanya terasa sesak dan kepalanya mulai berdenyut. Ia memegangi lehernya yang serasa tercekik, sakit. Setelah terbatuk beberapa kali, cairan merah itu akhirnya keluar dari mulutnya. Darah. Sang gadis buru-buru merogoh sakunya, mencari-cari tisu yang biasanya ia bawa. 
     Darah segar masih keluar untuk beberapa saat. Perih dan nyeri harus dirasakan gadis itu. Saat akhirnya darah berhenti mengalir, ia membersihkan sisa-sisa darah di sekitar mulutnya, mencegah bercak merah itu mengenai seragam sekolahnya. Ingin rasanya ia menangis, namun ditahannya air mata itu. "Ini hal yang biasa, hadapi dengan biasa," bisiknya pada dirinya sendiri.
     Dirapihkan bajunya, dan keluar dari kamar mandi dengan sikap tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia sudah terlambat mengikuti pelajaran biologi, namun sang guru acuh tak acuh saat ia memasuki kelas. Alih-alih mendengarkan gurunya menerangkan di depan kelas, ia malah sibuk mencoret-coret buku catatannya, berusaha menghalau perasaan aneh semacam yang baru ia rasakan. Dan saat akhirnya bel pulang berbunyi, ia bersyukur pada Tuhan karena menguatkan ia untuk bisa melewati hari itu.
     Kamarnya adalah tempat paling nyaman bagi gadis itu,tempat ia mencurahkan semua yang ia rasakan. Dan karena saat itu ia merasa ia lemah dan lelah, ia menangis dan menangis. Ia benar-benar lelah dengan semua yang ia alami.
     "Jangan menangis, anakku," Suara lembut Mamanya tiba-tiba terdengar disampingnya.
     Gadis itu hanya mendongakkan kepalanya. Ia tahu, Mamanya bisa merasakan kepedihannya.
     "Kenapa aku tidak boleh menangis Mama?" Tanyanya lugu kepada Mamanya.
     "Karena Mama tahu kamu gadis yang kuat. Kalau kamu tidak menangis, Mama akan menghadiahkan apapun yang kamu mau,apapun yang kamu suka," Jawab Mamanya seraya membelai rambut anaknya.
     "Benarkah? Mama akan memberikan apapun yang aku mau?" 
     "Ya, tentu saja,asalkan kamu tidak menangis lagi," Sang Mama berusaha meyakinkannya. "Satu lagi, menangis akan membuatmu sulit untuk sembuh, nak."
     "Kalau aku minta kesembuhan, apa Mama akan menghadiahkannya untukku?"
     Mamanya hanya menatap lemas bidadari kecilnya, matanya mulai berkaca-kaca, giginya bergemeretak.
     "Itu hadiah yang hanya bisa diberikan Tuhan, sayang. Mama hanya bisa mencintaimu, bukan menyembuhkanmu. Mama yakin kamu bisa melewatinya. Tuhan sayang padamu. Jika kamu kuat dan tidak menangis lagi, Tuhan akan memberi hadiah kesembuhan padamu."
     Senyum Mamanya membuatnya tenang. Dan gadis itu akhirnya mencoba ikut tersenyum, menghapus sisa air mata di kedua pipinya.
     "Aku bisa, aku kuat."

With love,
Dedott :*