Bukan karena hari ini indah, kita menjadi bahagia.
Tapi karena kita bahagia, maka hari ini jadi indah.
Bukan karena rintangan, kita jadi optimis.
Tapi karena kita optimis, rintangan jadi tak terasa.
Bukan karena mudah, kita yakin jadi bisa.
Tapi karena kita yakin bisa, maka semua menjadi mudah.
Bukan karena semuanya baik, kita jadi tersenyum.
Tapi karena kita tersenyum, maka semuanya jadi baik :)
Life is beautifull :)
With love ,
Dedott :*
Tampilkan postingan dengan label Talk About. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talk About. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Panji Iswani :*
Aku merebut remote televisi yang bocah
lelaki itu pegang. Lalu kuganti channel TV ke nomor 1, RCTI.
Bocah itu balik merebut remote dan
mengembalikan ke channel sebelumnya.
“Ih apaan sih, gantian tau liatnya! Lagi
iklan juga, mau liat Doraemon!” Bentakku sambil kembali merebut remote yang
masih berada di tangannya.
Dia menjauh, dan melempar bantal kursi
padaku. “Yee, ini juga baru sebentar! Diganti-ganti terus, ini juga Power
Rangernya udah mau mulai!” Katanya memeletkan lidah.
Aku membuang bantal kursi yang tadi
mengenai wajahku. Lalu ku pukul lengannya seraya mengambil kembali remote TV.
“Mamaaaaa, kaka nakal!” Serunya keras
sambil gantian memukulku.
Aku
rindu saat-saat seperti itu, Minggu pagi yang ramai karena perebutan remote TV.
Dia bernama Panji Iswani, adik lelakiku satu-satunya. Usia kami hanya terpaut
satu tahun. Aku lahir pertengahan tahun 1995, dan dia menyusul pada Desember
1996, 2 hari sebelum tahun baru 1997. Tubuhnya lumayan gemuk dan besar. Jika
aku mewarisi tinggi badanku dari Papa, maka dia mendapatkan kulitnya yang putih
turunan dari Mama.
Dulu sewaktu aku TK, dia tidak mau kalah
denganku. Dia ikut-ikutan belajar di TK yang sama denganku. Kadang dia suka
ikut ke sekolahku, walaupun tidak memakai seragam TK, tapi dia ikut bermain dan
belajar di kelas bersamaku. Teman-temanku, berarti temannya juga. Setelah aku
lulus dari TK dan mulai memasuki bangku SD, dia kembali bersekolah TK, tapi di
tempat yang berbeda dari TK-ku dulu.
Saat akhirnya dia menjadi adik kelasku
di SD, bagiku dia sangat menyulitkan. Dia senang sekali jajan. Jika uang
jajannya habis, maka saat jam istirahat dia akan menunggu di depan kelasku, dan
meminta uang kepadaku. Meskipun kesal karena setiap hari seperti itu, toh aku
selalu memberikan sebagian uangku kepadanya. Sewaktu kecil, rasa-rasanya kami
jarang sekali bertengkar. Setiap sore, kami berdua dan anak-anak lain di
sekitar rumahku selalu mengaji di masjid desa kami. Kadang aku yang
mengajarinya membaca Iqro’. Sudah berulang kali kuajarkan tapi dia tidak juga
bisa. Aku marah dan mengajarinya dengan membentak-bentak supaya dia paham.
Akhirnya dia hanya menunduk diam. Aku jadi tidak tega :p
Lama-kelamaan, anak-anak di desaku
jarang pergi ke masjid untuk mengaji, mereka mengaji di rumahnya masing-masing.
Aku dan adikku akhirnya mengaji di masjid yang agak jauh dari rumahku. Guru
mengaji kami adalah seorang guru agama di sebuah SD. Tiap sore sekitar jam
setengah 3 sampai jam 4 lewat, kami mengaji sekaligus mempelajari ilmu agama
seperti yang diajarkan di sekolah. Pulang mengaji, kami selalu ke tempat Budhe
yang jaraknya dekat dengan masjid itu, menunggu Papa menjemput.
Di rumah, aku dan Panji sering bermain
berdua. Kami bermain petak umpet. Dia lebih sering kalah dibandingkan denganku.
Kami juga pernah sangat tergila-gila dengan bulu tangkis. Kami merengek-rengek
pada Mama agar dibelikan sepasang raket dan kok. Saat akhirnya benda itu kami
dapatkan, tiap sore kami bermain bulutangkis di halaman depan rumahku yang
lumayan luas. Mama dan Papa duduk di beranda sambil melihat kami berdua
bermain. Sekali-sekali mereka ikut bermain bergantian dengan kami.
Dulu sewaktu SD, kami tidur bersama
dalam satu kamar yang berisi dua kasur. Kami masih suka tidur ditemani Mama.
Kalau Mama menemani kami tidur, kami akan banyak bertanya tentang berbagai
macam hal. Seperti, ada apa di balik awan, atau mengapa kita tidak bisa melihat
Tuhan. Mama akan menjawab semua keingintahuan kami, dan menyanyikan lagu-lagu
daerah sampai kami berdua tertidur. Baru kemudian beliau menyelimuti kami
berdua dan pergi ke kamarnya sendiri. Kadang, kami sekeluarga, Papa, Mama, aku,
dan adikku tidur bersama di kamar kami. Kasur dijadikan satu, aku dan adikku
tidur diantara Mama dan Papa. Kami tertawa dan mengobrol sampai terlelap dalam
mimpi. Aku sangat merindukan saat-saat seperti itu :’)
Malam hari di rumah adalah waktu yang
menyenangkan karena kami sekeluarga berkumpul. Papa minum kopi di ruang tamu
sambil memandangi ikan-ikan mas koki di aquarium. Mama menyetrika baju, Nenek
menonton TV, aku dan Panji mengerjakan PR. Kalau ada soal yang sulit, adikku
akan bertanya pada Mama, tapi karena Mama sibuk menyetrika, lebih sering Mama
menyuruh adikku untuk bertanya padaku. Aku sering kesal jika adikku bertanya sementara
aku sedang konsentrasi mengerjakan soal-soal hitunganku. Padahal di buku
materinya kan ada, tapi karena malas membaca, dia seenaknya saja bertanya. Jika
masalah matematika, kami berdua tahu harus minta ajari pada siapa. Ya, tentu
saja pada Papa. Papaku jago dalam pelajaran Matematika. Beliau akan dengan
sabar mengajari kami, dan mengingatkan jika kami salah dalam menghitung.
Saat Papa dan Mama pergi menginap ke
rumah Nenek yang di Pangandaran, aku dan adikku harus bergotong royong
membersihkan rumah. Aku mengerjakan pekerjaan dapur dan mencuci, dia yang
menyapu dan mengepel. Walaupun masih kecil dan seorang laki-laki, tapi dia
mengerti tugasnya. Kadang dia juga akan memasak makanannya sendiri jika tidak
suka dengan menu yang aku buat. Jika aku memasak sayur, dia tidak akan mau
memakannya. Entah kenapa dia anti sekali dengan sayur, padahal waktu balita,
makanan kesukaannya adalah sop. Dia lebih sering membuat telur atau mie goreng
sendiri.
Aku sering sekali menjahili adikku yang
satu ini. Misalnya saja, pada hari Minggu, Mama sedang memasak. Aku sehabis
mandi dan melewati Mama di dapur. “Ka, Mama beliin kecap sama Masako ya.
Uangnya ambil di kamar.” Perintah Mama padaku. Aku mengangguk dan segera
mengambil uang di kamar Mama. “De, kata Mama suruh beliin kecap sama Masako di
warung. Cepet ya.” Ujarku pada Panji yang sedang asyik melihat kartun di depan
TV. Dia sedikit mengeluh, tapi kemudian beranjak ke warung. Aku tertawa puas,
padahal aku yang diperintah, tapi aku bilang padanya bahwa adikku itu yang
dimintai tolong. Jika sudah kembali dari warung, aku yang menyerahkan
belanjaannya ke Mama, sehingga Mama taunya ya aku yang tadi ke warung. Hhahaha
:D Berkali-kali aku melakukan hal ini, bahkan juga hal lain seperti menyiram
bunga, atau menyapu halaman. Tapi kemudian adikku tahu dengan sendirinya, dan
dia bisa menolak dengan berkata, “Ih, Dede denger yang disuruh Kaka. Kalo Kaka
ga mau ya udah, nanti Dede bilangin ke Papa, weekk.” Jika sudah seperti itu,
akulah yang akhirnya mengerjakan tugasku sendiri.
Menurutku, Panji adalah seorang anak
lelaki yang manja. Walaupun dia punya banyak teman bermain, tapi kalau di
rumah, dia tidak mau apa-apa kalau tidak dengan Mama. Kalau aku nakal padanya,
dia sering mengadukanku pada Papa sehingga aku sering dimarahi. Bahkan kadang
jika dia yang nakal padaku, aku yang diadukan, dan dia pura-pura menangis. Aku
ingin marah, tapi toh yang dipercaya adalah adikku. Beranjak besar, kami jadi
sering sekali bertengkar, kadang hanya bercanda, kadang sampai dia benar-benar
marah. Kami sampai saling memukul dengan sapu, berkejaran sampai halaman,
membuat Mama berteriak jika kami bermain kejar-kejaran dan heboh mengelilingi
Mama yang sedang memasak di dapur. Tapi bila sudah marah, adikku akan langsung
masuk ke kamar, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam. Aku sering
mengejek kebiasaannya marah ini. “Ih laki-laki kok kalo ngambek ngunci kamar,
malu woy malu, entar bilangin ke pacarnya! hahaha.” Ujarku keras-keras dari
depan pintu kamarnya. Dia hanya menendang pintu untuk menjauhkanku.
Ngomong-ngomong, Panji adalah adik yang
asyik untuk diajak curhat. Jika meminjam hapeku untuk ngegame dan melihat
wallpaper hapeku seorang lelaki, dia akan bertanya, “Ini siapa ka?” dan aku
menceritakan padanya bahwa lelaki itu adalah pacarku. Sambil bermain game, dia
mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku. Jika pacarku main ke rumah,
sepulangnya, adikku kembali bertanya, “Itu yang tadi main pacar kaka ya? Yang
waktu itu kaka ceritain?”
Kadang,
jika aku sedang galau sendiri, aku bercerita padanya. Walaupun ia tidak paham,
toh dia akan tetap mendengarkan. Dan jika ada lelaki lain yang main ke rumah,
adikku akan bertanya-tanya, kemudian membandingkan dengan pacarku yang
sebelumnya. Kalau aku baru putus dengan pacarku, dengan setengah emosi aku
menceramahinya, “Kalo jadi laki-laki harus setia loooh, jangan kaya si *sensor*
itu, mainin cewek aja bisanya. De, kalo punya pacar besok jangan disakitin,
entar kena karma!” Ujarku berapi-api. Panji hanya mengangguk-angguk. “Iya iya, Dede
juga kalo punya pacar ga mau yang kaya Kaka ah.” Katanya sombong. “Loh ko
gituuu?” Aku melotot marah. “Iya lah, kan Kaka mah ganti terus, playgirl cap
kabel pedot.” Adikku lari sambil menjulurkan lidahnya. Aku mengejarnya sambil
mengomel-ngomel :D
Aku dan adikku sama-sama menyukai kucing.
Kami memelihara banyak sekali kucing di rumah. Pertamanya dari kucing betina
milik tetangga yang diberi nama Porong (nama yang aneh). Saat Porong beranak,
aku memintanya satu. Adikku memberinya nama Mengki. Saudara Mengki yang tinggal
di rumah tetangga ada yang dinamai Mingka, Mangki, dan sebagainya seperti nama
kembar. Keturunan berikutnya juga diberi nama yang mirip-mirip seperti Pingka,
Pingki, Moci, Poci, Eki, Uci. Sekarang sudah sampai keturunan ke-4. Setiap hari
kami bermain dengan kucing, bergantian memberi makannya, dan tiap Minggu kami
memandikannya. Kucing-kucing kami tidur di sofa di ruang TV. Panji sangat
menyayangi kucing-kucing kami. Dia akan marah padaku bila aku menjahati mereka.
Dia juga akan merasa iri jika aku bermain dengan Poci atau Moci, sehingga dia
akan langsung merebutnya dan mengajak mereka untuk bermain bersamanya.
bersama meong :*
Disamping kelakuannya yang lebih sering
menyebalkan, yang kubangga dari adikku adalah prestasinya di sekolah. Sejak SD,
dia tidak mau kalah denganku. Dia sering menduduki peringkat 1 atau 2 di
kelasnya. Jika aku mendapat ranking 1 dan kebetulan dia ranking 2, aku dengan
puas menindasnya, haha :D Saat SMP prestasinya agak menurun. Aku tidak tahu
kenapa. Mungkin karena sering bermain. Dia memang sangat suka bermain PS. Jika
sudah PS-an, dia sering lupa waktu dan akan menjadi sasaran kemarahan Mama. Aku
sih ikut-ikut nimbrung memarahinya saja :p
Sejak aku duduk di bangku SMP, hubungan
kami menjadi agak renggang. Aku paham, sebagai seorang anak lelaki yang sedang
tumbuh, pasti dia akan malu jika masih bermain dengan kakak perempuannya. Dia
lebih sering bergaul dengan anak laki-laki teman sebayanya. Mungkin di matanya,
aku adalah seorang kakak yang cerewet dan suka marah-marah, tapi sebenarnya aku
selalu mengkhawatirkan dia. Jika dia pulang sekolah sendiri, aku takut terjadi
apa-apa padanya. Saat study tour SD, aku takut dia mabuk di perjalanan, dan tidak
bisa apa-apa disana. Saat dia mengikuti perlombaan mewakili sekolah, aku
khawatir dia kalah lalu kecewa pada dirinya sendiri. Padahal seharusnya aku
tahu, adikku lelaki yang kuat. Dia bisa sendiri tanpa aku atau Mama, dia juga
bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Saat aku tinggal di Jogja untuk sekolah,
aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku senang karena tidak tinggal seatap
lagi dengan adikku yang menyebalkan itu. Aku tidak perlu berebut remote TV
lagi, tidak perlu setengah hati saat berbagi eskrim atau semangkuk bakso. Tidak
perlu berebut kamar mandi lagi tiap pagi, tidak perlu bersusah-susah memaksanya
bangun tidur untuk sholat subuh. Aku pikir aku akan bahagia dan bebas, dan aku
berpikir pasti dia juga merasakan hal yang sama. Tidak akan ada lagi yang
cerewet menyuruhnya ini itu, tidak ada lagi yang mengajaknya bertengkar tiap
hari. Aku pikir aku akan menikmati hidupku yang tenang. Tapi nyatanya tidak
seperti itu. Saat bangun tidur, aku ingat harus membangunkannya sholat subuh.
Saat makan bakso, aku ingat dia, karena Panji sangat menyukai bakso. Saat
menonton TV sendirian di kost, tidak ada teman berebut TV seperti dulu. Bahkan
aku ingin bertengkar dengan adikku itu.
Sesekali, Mama menelpon menanyakan
kabarku. Dan kadangkala adikku ikut berbicara padaku. Suaranya tidak berubah.
“Dede lagi sama Poci ka, lagi boboan di kaki Dede. Katanya Poci kangen sama
Kaka.” Diam-diam aku menitikkan air mata. Aku tahu, sebenarnya dia yang kangen
padaku, tapi dia malu untuk mengatakannya.
Aku ingat sekali saat-saat Papa
meninggal hampir setahun yang lalu. Saat aku pulang ke Cilacap dan langsung
pingsan begitu sampai di rumah, aku sama sekali belum betemu dengan adikku.
Katanya, dia di kamar belakang terus. Esoknya ketika aku sudah sadar dan lebih
tenang, aku tidur ditemani Mama. Tiba-tiba adikku masuk ke kamarku. Dia hanya
memandangiku sambil terdiam. Perlahan, air matanya jatuh. Aku langsung menangis
histeris melihatnya. Kami berpelukan, dan menangis bersama. Kami kehilangan
Papa, orang yang sangat kami cintai. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah
melihat Panji menangis lagi, apalagi di depanku. Tapi tampaknya kini tidak ada
lagi yang menghalanginya untuk menyembunyikan kesedihan itu. Selama beberapa
hari setelah pemakaman Papa, dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tapi tiap
ada kerabat yang datang, terutama yang dulu dekat dengan Papa dan keluarga,
adikku langsung menangis lagi. Aku berusaha menenangkannya, walaupun aku juga
sangat lemah dan sedih, tapi aku harus selalu terlihat tegar di depan adikku
sendiri. Dia mau makan jika bersama denganku, dan dia menurut jika aku
menyuruhnya mandi atau berganti baju. Tidak ada yang bisa kami andalkan, karena
saat itu pastinya Mama mengalami kesedihan yang lebih dalam daripada kami
berdua.
Tapi lama kelamaan, kami paham bahwa
kami tidak boleh terus menerus bersedih. Dia mulai kembali tersenyum walaupun
matanya masih lekat menyimpan kesedihan. Kami menjadi lebih dekat, seperti dua
bocah kecil yang dulu sering bertengkar tiap hari. Kami sama-sama merasa
senasib saat kehilangan Papa, dan kami belajar untuk hidup lebih kuat dengan
Mama sebagai orangtua tunggal. Aku melihat adikku lebih rajin belajar dan
menurut jika dinasihati oleh Mama.
Seminggu setelah kepergian Papa, Moci
mati. Dulu dia memang dekat sekali dengan Papa. Dia tidur di kaki Papa jika
malam hari, dan selalu menemani Papa minum kopi tiap sore. Karena Papa yang
memberi makan dia, semenjak Papa pergi, dia tidak pernah mau makan, dia menjadi
kurus dan akhirnya sakit-sakitan. Dia juga kehilangan Papa. Saat itu aku sudah
kembali ke Jogja. Dan di pagi yang mendung itu, Mama menelponku. Moci mati
menyusul Papa. Semalam dia tidak mau makan atau minum susu, padahal sudah
dipaksa-paksa oleh Mama. Panji tidak bisa tidur nyenyak. Subuhnya, Moci
ditemukan mati dalam tidurnya. “Ka.. Moci mati... Moci mati..” Aku menangis
mendengar suara adikku yang begitu sedih. Dia juga pasti sangat kehilangan,
padahal belum sembuh juga luka kami karena kehilangan Papa.
Saat aku pulang liburan beberapa waktu
yang lalu, aku melihat kuburan Moci. Adikku menunjukkannya dengan senyum getir.
Kini
adikku Panji sudah tumbuh menjadi seorang lelaki yang gagah. Tingginya sudah
hampir melampaui tinggiku. Kulitnya yang dulu putih, kini sudah lebih coklat
dariku. Suaranya sudah berubah menjadi lebih berat, alisnya menebal.
Prestasinya di sekolah juga bagus. Semester terakhir kemarin dia peringkat 2 di
kelasnya. Sebelumnya, dia peringkat 1, memang agak menurun, tapi tetap hasil
yang bagus buatku. Kini dia sudah kelas 3 SMP, tidak merokok dan selalu
menuruti nasihat Mama. Aku bahagia mempunyai dia. Kadang kami masih suka
bertengkar, tapi kami telah tumbuh menjadi lebih dewasa dan bertekad
membahagiakan Mama. Sebentar lagi dia akan menyusulku untuk melanjutkan SMA di
Jogja. Aku yakin kelak dia akan menjadi kebanggaan aku dan Mama, juga Papa. Dia
akan jadi lelaki hebat, yang kuat, yang bertanggung jawab :’)
Waktu aku SMP
With
love, your fussy sister,
Dedott
:*
Kamis, 19 Januari 2012
Asal-Usulnya :D
Bagaimana? Bagaimana aku bisa sampai di Jogja ini? Bagaimana ceritanya kok sampai sekarang aku bisa tinggal disini? Ada seorang teman yang bertanya seperti itu padaku, dan memintaku menceritakannya. Oke lah, sekalian aja aku ceritakan, mumpung banyak ilham yang menari-nari di otakku, haha :D
Well, sejak aku kecil, sejak SD tepatnya, aku sudah bertekad kalau sudah besar nanti, SMA atau kuliah, aku ingin melanjutkan di Jogja. Kenapa yaa? Kenapa kenapa kenapa? Kenapa hey sodara-sodaraaaa? *alay mode on* hahaha mungkin alasan pertama, waktu kecil aku sering berlibur ke Jogja. Mamaku adalah seorang guru di SMP-ku, SMP 1 Patimuan. Nah, tiap tahun SMP itu mengadakan study tour kan. Dan bagi staf guru, boleh membawa anggota keluarganya untuk ikut liburan. Mama sering mengajak aku dan adikku saat SMP mengadakan study tour, pernah ke Jakarta atau Bandung, tapi lebih sering ke Jokja. Terhitung sejak TK sampai SD aku empat atau lima kali ke Jogja.
Dari pengalaman inilah, sedikit sedikit aku mengenal kota ini. Aku kagum pada budaya jawanya yang kental, keramahan warganya, makanan khasnya, dan terutama keindahan Jogja itu sendiri. Maka sejak saat itu aku mulai merangkai mimpiku untuk melanjutkan masa depanku di Kota Pelajar ini. Sampai suatu saat, tepatnya saat aku kelas 3 SMP, saat itu aku baru saja menyelesaikan ujian nasional. Seorang kakak kelasku (Mbak Ira) merekomendasikan sekolahnya. Ya, dia bersekolah di SMA 1 Sedayu, Bantul. Waktu itu, SMA itu sedang mengadakan seleksi untuk kelas akselerasi. Sekolah lain memang belum membuka pendaftaran, tapi kelas aksel ini sudah membuka penerimaan siswa baru untuk program akselerasinya.
Pertamanya, aku tidak terlalu berminat. Saat itu aku masih ingin santai-santai menikmati kebebasan setelah selesai mengikuti UN. Rencananya, aku ingin melanjutkan di salah satu SMA favorit di Cilacap, karena banyak juga temanku yang berniat mendaftar di sana. Lagipula, sekolah aksel? Aku merasa tidak cukup pintar untuk masuk ke sana. Tapi orangtuaku mendorongku untuk sekadar mencoba, "Cuma coba aja, nanti kalo nggak ke terima, ya di Cilacap aja." Begitu kata Mama.
Oke, waktu itu aku mau untuk sekedar mencoba. Untuk pendaftaran, syaratnya nilai rata-rata raport untuk pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris paling sedikit 7. Dan karena nem (nilai UN) tidak diperlukan untuk mendaftar, syarat satu itu sudah terpenuhi. Yang ke dua adalah mengikuti ujian tertulis. Maka, saat anak-anak lain sedang bersantai di rumah menunggu hasil UN keluar, aku dan Mamaku pergi ke Jogja untuk mengikuti tes ini.
Pada saat itu, baru ada 5 orang termasuk aku yang mendaftar dan mengikuti ujian tertulis. Masih kuingat nomor pendaftaranku waktu itu, nomor 2, haha :D Waktu itu aku mengerjakan soal-soal itu sebisanya saja. Ternyata, aku diterima. Pemberitahuan disampaikan melalui sms, orangtuaku senang dan mengucapkan syukur, sedangkan aku kaget. Iya kaget, AKU DITERIMA? JOGJA? SMA 2 TAHUN? Ini mimpi, pikirku. Tapi ternyata bukan. Ini kenyataan, dan akhirnya aku juga mengucap syukur. 4 orang lain yang mengikuti test bersamaku juga lolos tes tertulis. Dan dengan 2 gelombang pendaftaran berikutnya, terkumpullah 19 orang lain yang kelak akan menjadi teman sekelasku.
Mulai saat itulah, aku dan Mama bolak-balik Cilacap-Jogja. Mengurusi ini-itu. Mengikuti tes psikologi di UGM, administrasi, surat-surat. Karena aku tidak mempunyai kerabat di kota ini, maka aku menyewa kos yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Di kos ini aku tinggal bersama Mba Ira, yang dulu merekomendasikan aku untuk masuk aksel. Kamar kami bersebelahan :D
Sebenarnya, ini masalah baru bagiku. Aku memang ingat impian masa kecilku untuk bersekolah di Jogja, dan hal itu sekarang sudah terwujud. Tapi....berjauhan dengan keluarga? Aku belum memikirkan hal ini sebelumnya. Pada dasarnya, aku anak yang cukup manja (terutama pada Mama). Dulu di rumah, tugasku sehari-hari adalah menyapu, mengepel, dan mencuci piring setiap pagi dan sore. Papa yang mencuci dengan mesin cuci, Mama di dapur, dan adikku yang kadang membantuku menjemur baju. Sekarang, aku harus melakukan semuanya sendiri???? Aku syok.
Awal-awal masa kosku, semuanya terasa berat dan aku belum terbiasa. Saat MOS, Mama masih menemaniku, membantu melewati MOS yang melelahkan. Begitu MOS selesai, Mama kembali ke Cilacap. Aku sendirian. Rasanya kamar kosku terasa sepi, dingin, kosong dan menyeramkan. Malam-malam pertama tidurku tidak nyenyak. Semuanya aku lakukan sendiri tanpa keluarga. Tapi lama kelamaan aku mulai membiasakan diri. Aku mempunyai keluarga baru di sekolah, juga di kos. Aku tidak begitu merasa kesepian lagi. Aku mulai menikmati hidup baruku.
Dan di sinilah aku sekarang. Aku banyak mendapatkan pengalaman di kota ini, bagaimana menjadi mandiri, berteman dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan merasakan hal-hal menyenangkan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan. Hampir dua tahun aku menjalani masa SMA-ku disini, yang sebentar lagi akan berakhir. Tinggal menunggu hitungan bulan aku harus menghadapi UN. Rasanya baru kemarin aku jadi anak SMP, eh sekarang masa SMA-pun sudah hampir habis. Waktu begitu cepat berlalu.
Bagaimana masa depanku? Sepertinya, aku akan tetap berada disini, di Jogjakarta. Bagiku, Jogja sudah seperti rumah keduaku. Aku mencintainya seperti aku mencintai tanah kelahiranku sendiri. Jadi, sudah kuputuskan akan melanjutkan kuliah di sini. Yang penting sekarang, aku harus berusaha mewujudkannya. Terus berusaha, belajar yang rajin, dan dengan dukungan serta doa dari orang-orang terdekatku, aku yakin aku bisa mencapainya. Semoga :D
With love,
Dedott :*
Well, sejak aku kecil, sejak SD tepatnya, aku sudah bertekad kalau sudah besar nanti, SMA atau kuliah, aku ingin melanjutkan di Jogja. Kenapa yaa? Kenapa kenapa kenapa? Kenapa hey sodara-sodaraaaa? *alay mode on* hahaha mungkin alasan pertama, waktu kecil aku sering berlibur ke Jogja. Mamaku adalah seorang guru di SMP-ku, SMP 1 Patimuan. Nah, tiap tahun SMP itu mengadakan study tour kan. Dan bagi staf guru, boleh membawa anggota keluarganya untuk ikut liburan. Mama sering mengajak aku dan adikku saat SMP mengadakan study tour, pernah ke Jakarta atau Bandung, tapi lebih sering ke Jokja. Terhitung sejak TK sampai SD aku empat atau lima kali ke Jogja.
Dari pengalaman inilah, sedikit sedikit aku mengenal kota ini. Aku kagum pada budaya jawanya yang kental, keramahan warganya, makanan khasnya, dan terutama keindahan Jogja itu sendiri. Maka sejak saat itu aku mulai merangkai mimpiku untuk melanjutkan masa depanku di Kota Pelajar ini. Sampai suatu saat, tepatnya saat aku kelas 3 SMP, saat itu aku baru saja menyelesaikan ujian nasional. Seorang kakak kelasku (Mbak Ira) merekomendasikan sekolahnya. Ya, dia bersekolah di SMA 1 Sedayu, Bantul. Waktu itu, SMA itu sedang mengadakan seleksi untuk kelas akselerasi. Sekolah lain memang belum membuka pendaftaran, tapi kelas aksel ini sudah membuka penerimaan siswa baru untuk program akselerasinya.
Pertamanya, aku tidak terlalu berminat. Saat itu aku masih ingin santai-santai menikmati kebebasan setelah selesai mengikuti UN. Rencananya, aku ingin melanjutkan di salah satu SMA favorit di Cilacap, karena banyak juga temanku yang berniat mendaftar di sana. Lagipula, sekolah aksel? Aku merasa tidak cukup pintar untuk masuk ke sana. Tapi orangtuaku mendorongku untuk sekadar mencoba, "Cuma coba aja, nanti kalo nggak ke terima, ya di Cilacap aja." Begitu kata Mama.
Oke, waktu itu aku mau untuk sekedar mencoba. Untuk pendaftaran, syaratnya nilai rata-rata raport untuk pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris paling sedikit 7. Dan karena nem (nilai UN) tidak diperlukan untuk mendaftar, syarat satu itu sudah terpenuhi. Yang ke dua adalah mengikuti ujian tertulis. Maka, saat anak-anak lain sedang bersantai di rumah menunggu hasil UN keluar, aku dan Mamaku pergi ke Jogja untuk mengikuti tes ini.
Pada saat itu, baru ada 5 orang termasuk aku yang mendaftar dan mengikuti ujian tertulis. Masih kuingat nomor pendaftaranku waktu itu, nomor 2, haha :D Waktu itu aku mengerjakan soal-soal itu sebisanya saja. Ternyata, aku diterima. Pemberitahuan disampaikan melalui sms, orangtuaku senang dan mengucapkan syukur, sedangkan aku kaget. Iya kaget, AKU DITERIMA? JOGJA? SMA 2 TAHUN? Ini mimpi, pikirku. Tapi ternyata bukan. Ini kenyataan, dan akhirnya aku juga mengucap syukur. 4 orang lain yang mengikuti test bersamaku juga lolos tes tertulis. Dan dengan 2 gelombang pendaftaran berikutnya, terkumpullah 19 orang lain yang kelak akan menjadi teman sekelasku.
Mulai saat itulah, aku dan Mama bolak-balik Cilacap-Jogja. Mengurusi ini-itu. Mengikuti tes psikologi di UGM, administrasi, surat-surat. Karena aku tidak mempunyai kerabat di kota ini, maka aku menyewa kos yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Di kos ini aku tinggal bersama Mba Ira, yang dulu merekomendasikan aku untuk masuk aksel. Kamar kami bersebelahan :D
Sebenarnya, ini masalah baru bagiku. Aku memang ingat impian masa kecilku untuk bersekolah di Jogja, dan hal itu sekarang sudah terwujud. Tapi....berjauhan dengan keluarga? Aku belum memikirkan hal ini sebelumnya. Pada dasarnya, aku anak yang cukup manja (terutama pada Mama). Dulu di rumah, tugasku sehari-hari adalah menyapu, mengepel, dan mencuci piring setiap pagi dan sore. Papa yang mencuci dengan mesin cuci, Mama di dapur, dan adikku yang kadang membantuku menjemur baju. Sekarang, aku harus melakukan semuanya sendiri???? Aku syok.
Awal-awal masa kosku, semuanya terasa berat dan aku belum terbiasa. Saat MOS, Mama masih menemaniku, membantu melewati MOS yang melelahkan. Begitu MOS selesai, Mama kembali ke Cilacap. Aku sendirian. Rasanya kamar kosku terasa sepi, dingin, kosong dan menyeramkan. Malam-malam pertama tidurku tidak nyenyak. Semuanya aku lakukan sendiri tanpa keluarga. Tapi lama kelamaan aku mulai membiasakan diri. Aku mempunyai keluarga baru di sekolah, juga di kos. Aku tidak begitu merasa kesepian lagi. Aku mulai menikmati hidup baruku.
Dan di sinilah aku sekarang. Aku banyak mendapatkan pengalaman di kota ini, bagaimana menjadi mandiri, berteman dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan merasakan hal-hal menyenangkan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan. Hampir dua tahun aku menjalani masa SMA-ku disini, yang sebentar lagi akan berakhir. Tinggal menunggu hitungan bulan aku harus menghadapi UN. Rasanya baru kemarin aku jadi anak SMP, eh sekarang masa SMA-pun sudah hampir habis. Waktu begitu cepat berlalu.
Bagaimana masa depanku? Sepertinya, aku akan tetap berada disini, di Jogjakarta. Bagiku, Jogja sudah seperti rumah keduaku. Aku mencintainya seperti aku mencintai tanah kelahiranku sendiri. Jadi, sudah kuputuskan akan melanjutkan kuliah di sini. Yang penting sekarang, aku harus berusaha mewujudkannya. Terus berusaha, belajar yang rajin, dan dengan dukungan serta doa dari orang-orang terdekatku, aku yakin aku bisa mencapainya. Semoga :D
With love,
Dedott :*
Kesetiaan Hujan
Hujan selalu setia padaku. Lihat saja, saat aku senang, hujan datang. Begitu pula saat aku sedih, hujan akan ada menemaniku. Kadang, ketika hatiku sedang benar-benar tak tentu, ia turun begitu deras. Rasanya, dia mengerti apa yang aku rasakan, maka ia ikut menangis.
Berlama-lama memandangi hujan dari jendela kelas, waktu seakan berhenti. Seolah hanya ada saat itu. Saat-saat tetes demi tetes air jatuh dari langit yang muram, turun lewat atap, dan akhirnya jatuh mengalir mengikuti aliran selokan di depan kelasku. Seandainya saat ini waktu menjadi abadi, aku tidak akan menolak. Bahkan aku tidak keberatan menghabiskan sisa hidupku hanya untuk sekedar memandangi hujan.
Jika waktu abadi di saat seperti ini, tentu saja aku usah memikirkan tugas-tugas yang menumpuk, nilai-nilai ujianku, atau mendengarkan ceramah guruku di depan kelas, yang nyatanya kalah oleh alunan musik dari headset yang sejak awal pelajaran sudah terpasang di telingaku.
Aku juga tidak perlu repot mengurusi masalah-masalah hidup yang tiap saat mengganggu pikiranku. Saat waktu berhenti dan menjadi abadi, masalah serumit apapun toh tidak perlu menemukan penyelesaian. Semua menjadi tidak penting lagi.
Dan semua akan menjadi sederhana. Hanya aku dan hujan dalam keabadian. Bukankah itu sangat sederhana? Kata orang, bahagia itu sederhana. Dan dengan mencintai kesederhanaan itu sendiri, aku merasa bahagia. Jadi sekarang, melalui jendela kelasku, aku kembali memandangi hujan. Hatiku menjadi lebih damai. Sejenak melupakan masalah-masalahku. Aku menikmati waktu abadiku ini, dan aku tau, hujan akan tetap setia.
With love,
Dedott :*
Jumat, 13 Januari 2012
Untuk 'Segalaku'
Kita bertemu dalam dunia yang absurd, yang awalnya tak kumengerti. Tak mengerti kenapa harus di saat seperti ini kita dipertemukan. Tak mengerti mengapa harus dengan cara seperti ini. Tak mengerti kenapa juga harus dengan kamu aku bertemu, yang pada akhirnya kusebut 'segalaku'.
Dan kita disini, terjebak dalam ke-absurd-an itu sendiri. Kita seperti terjebak dalam dunia yang tidak nyata. Imajiner, layaknya dunia mimpi atau fantasi. Abstrak, tidak bisa kita definisikan dan kita pahami. Tapi aku bahagia. Kita melewati masa yang singkat hingga tidak aku sadari kita saling memiliki. Rasanya, kemarin kamu hidup dalam dunia yang berbeda denganku. Aku tak mengenal sosokmu, tapi tiba-tiba kamu telah berada di dunia yang absurd ini, bersamaku, menjadi milikku!
Aku pernah mengatakannya padamu --baru saja-- bahwa kamu tak ubahnya seperti lelaki lain yang sebelumnya datang dalam dunia absurdku, menyakitkan dan pada akhirnya akan meninggalkan aku sendiri disini. Tapi dalam hatiku, aku tahu kamu berbeda. Aku tahu kamu akan meninggalkan bekas yang indah. Bukan, aku bukan seorang indigo yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi. Itu hanya keyakinanku saja, dan keyakinanku itu akan kupelihara. Hanya untuk sekedar mengingatkan diriku sendiri, bahwa kamu memang berbeda.
Seperti pasangan lain yang dimabuk asmara, kita mengisi hari-hari awal kita dengan kebahagiaan. Kita melakukan banyak hal bersama, membicarakan banyak hal berdua. Sama-sama mengagumi hujan yang pesonanya bisa membius kita berdua untuk berlama-lama menatapnya, sambil tangan kita saling bertautan dan merasakannya dalam hati. Kau tahu, semuanya menyenangkan bagiku. Terutama saat kamu berada di sampingku, rasanya duniaku tidak se-absurd sebelumnya.
Tiap hari saat sinar matahari menerobos lewat celah-celah jendela kamarku, aku tahu hariku akan baik. Tentu saja alasan senyum pertamaku tiap pagi adalah kamu :) Bahkan kamu yang membuatku percaya bahwa hariku tetap akan baik sekalipun langit mendung dan matahari tidak terlihat.
Di tengah kejenuhan menjalani kegiatan monoton di dunia absurdku, dengan mengingat senyummu dan mengucapkan namamu pelan-pelan dalam hati, sudah membuatku merasa lebih baik. Tahu kan, kamu selalu menjadi penyemangatku :)
Kadang, aku merasa begitu lelah, begitu sakit dengan keadaanku. Lalu ada begitu banyak kalimat keluhan yang keluar dari mulutku. Aku akan mengatakan semuanya sia-sia, tidak ada gunanya aku bertahan di sini, aku terlalu lelah, dan segala macam yang memuakkan. Aku lupa caranya bersyukur dan bagaimana berfikir positif. Aku tidak ingat dengan semua yang masih kumiliki, yang mencintaiku, yang menyayangiku. Tapi kamu tidak bosan mengingatkanku. Dan walaupun aku menganggap kata-katamu angin lalu, diam-diam aku bahagia. Kamu mengembalikanku ke jalanku semula :)
Pasti kamu
berusaha mati-matian menghadapi egoku. Tidak banyak memang yang bisa
memahami kepribadianku yang labil ini. Emosiku gampang sekali tersulut
karena suatu hal, dan aku tidak mudah mengendalikannya. Kamu tidak akan
tahu rasanya seperti apa, berusaha menahan semuanya di tengah-tengah
kekacauan hatiku. Tapi lagi-lagi kamu bisa membuatku bertahan. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi percayalah, setiap nasihat yang kamu beri selalu mampu membuatku bangkit.
Saat mataku tidak bisa terpejam di tengah malam, aku sering berdialog dengan Tuhan. Bertanya siapa sebenarnya kamu ini? Mengapa kamu bisa mengubah tangis menjadi tawa? Mengubah yang hitam menjadi putih, Menjadikan yang mustahil menjadi mungkin. Aku rasa, kamu malaikatku. Tuhan selalu punya cara untuk menyelamatkanmu, kata seseorang padaku. Dan aku tahu kini, Tuhan menyelamatkanku dengan cara mengirimkan kamu. Aku tidak perlu bertanya lagi siapa kamu. Kamu adalah cinta, yang mengisi kekosongan dalam hatiku. Kamu akan berada di sebelahku saat aku kesepian. Kamu akan mendekapku dengan tangan-tangan kekarmu saat aku menangis, dan membawaku dalam pelukanmu.
Aku suka saat kamu menggenggam tanganku dan menciumnya lembut. Aku suka caramu menatap mataku. Aku suka berbagi eskrim denganmu. Aku suka saat berada di jok belakangmu dan memelukmu erat. Aku suka jika kamu mengecup pelan keningku. Dan aku merasa teristimewa saat kamu menyebutku 'My Only Rose'.
Tidak banyak kata yang bisa menggambarkan kamu dalam dunia kata-kataku, sama seperti dunia absurdku. Pada saatnya nanti, aku akan sangat takut kehilangan kamu. Tentu saja, kamu kan segalaku. Aku mencintaimu. Itu sudah cukup mewakili segala yang aku rasakan padamu.
Terimakasih telah menjadi matahari di pagiku, bintang di malamku. Terimakasih untuk kesabaranmu. Terimakasih karena menjadi pelangi setelah hujanku. Terimakasih telah begitu baik, terimakasih untuk segala perhatianmu. Terimakasih membuat jantungku tetap berdetak. Aku selalu mencintaimu, dan akan selalu seperti itu.
Kau segalaku :) :*
With love,
Dedott :*
Rabu, 11 Januari 2012
Hallo Blog :D
Hallo blog, apa kabar? :) lama aku tidak bermain dalam duniamu, dunia tulis menulis yang dulu selalu aku jadikan tempat pelarian kebosananku. Yah, akhir 2011 yang lalu banyak yang menyibukkan aku, dan banyak hal yang membuatku melupakan kamu sejenak. Sekarang aku merindukanmu. Merindukan jari-jemariku menulis di atas keyboard netbook-ku, merangkai kata demi kata, meluapkan semua yang terlintas di pikiranku.
Kamu lihat, Blog, kata-kataku sekarang begitu kaku. Aku tidak terbiasa lagi untuk menulis. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi, terlalu banyak beban yang aku alami beberapa waktu belakangan. Dan hal itu membuat otakku malas memikirkan kata-kata yang indah. Semuanya tampak suram ya?
Well, 2011 berhasil aku lewati, walaupun dengan tidak begitu menyenangkan. Tahun 2011 menjadi tahun yang meninggalkan banyak kenangan. Aku kehilangan banyak orang yang dekat denganku, yang benar-benar aku cintai; Papa dan Nenekku. Juga kucing kesayanganku. Itu membuatku terpuruk begitu lama, menambah sakit yang selama ini sudah aku tanggung. Aku juga berkali-kali mengalami kegagalan dalam membina hubungan. Tapi sisi baiknya, hubunganku dengan keluarga, terutama Mama dan adikku, menjadi semakin dekat. Kami merasakan kesakitan yang dalam sejak Papa pergi, tapi kami berjuang bersama melewatinya.
Selain itu, aku menemukan bahwa begitu banyak orang-orang yang menyayangiku. Saat aku jatuh dan terpuruk, banyak yang membantuku bangkit, mengulurkan tangan-tangan kepedulian mereka dan membuatku kembali tersenyum.
Semua yang terjadi dalam waktu setahun terakhir membuatku lebih kuat dan siap menghadapi setiap hari baru. Banyak pelajaran yang aku dapat, dan itu membuatku berfikir lebih dewasa. Targetku di tahun 2012 ini adalah lulus ujian dan segera masuk ke perguruan tinggi. Banyak sekali harapan-harapan yang aku ingin wujudkan, dan dengan usaha serta tambahan semangat dari orang-orang yang kusayang, aku tahu aku bisa mencapai semuanya :)
Oya, akhir tahun lalu, aku dapat buku baru, Chicken Soup for Soul edisi Think Positive. Buku ini berisi 101 cerita inspiratif tentang mensyukuri karunia dan bersikap positif. Mungkin nanti beberapa kisahnya bakal aku posting disini. Aku mendapatkannya dari Mama, yang membelikannya saat kami berburu buku di Gramedia bulan Desember lalu. Dan buku ini menjadi buku favoritku saat ini :)
Saat ini aku sedang merencanakan untuk membeli buku Chicken Soup lagi tetapi edisi yang lain, mungkin edisi tentang Persahabatan, Khusus Keluarga, atau Cinta :)
Walaupun terlambat, aku mengucapkan Selamat Tahun 2012 untukmu, Blogku :) semoga jari-jariku selalu betah bermain dalam duniamu, semoga kamu tidak bosan menerima semua curhatan dan keluh-kesahk.
Be better, keep struggle! :D
With love,
Dedott :*
Kamu lihat, Blog, kata-kataku sekarang begitu kaku. Aku tidak terbiasa lagi untuk menulis. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi, terlalu banyak beban yang aku alami beberapa waktu belakangan. Dan hal itu membuat otakku malas memikirkan kata-kata yang indah. Semuanya tampak suram ya?
Well, 2011 berhasil aku lewati, walaupun dengan tidak begitu menyenangkan. Tahun 2011 menjadi tahun yang meninggalkan banyak kenangan. Aku kehilangan banyak orang yang dekat denganku, yang benar-benar aku cintai; Papa dan Nenekku. Juga kucing kesayanganku. Itu membuatku terpuruk begitu lama, menambah sakit yang selama ini sudah aku tanggung. Aku juga berkali-kali mengalami kegagalan dalam membina hubungan. Tapi sisi baiknya, hubunganku dengan keluarga, terutama Mama dan adikku, menjadi semakin dekat. Kami merasakan kesakitan yang dalam sejak Papa pergi, tapi kami berjuang bersama melewatinya.
Selain itu, aku menemukan bahwa begitu banyak orang-orang yang menyayangiku. Saat aku jatuh dan terpuruk, banyak yang membantuku bangkit, mengulurkan tangan-tangan kepedulian mereka dan membuatku kembali tersenyum.
Semua yang terjadi dalam waktu setahun terakhir membuatku lebih kuat dan siap menghadapi setiap hari baru. Banyak pelajaran yang aku dapat, dan itu membuatku berfikir lebih dewasa. Targetku di tahun 2012 ini adalah lulus ujian dan segera masuk ke perguruan tinggi. Banyak sekali harapan-harapan yang aku ingin wujudkan, dan dengan usaha serta tambahan semangat dari orang-orang yang kusayang, aku tahu aku bisa mencapai semuanya :)
Oya, akhir tahun lalu, aku dapat buku baru, Chicken Soup for Soul edisi Think Positive. Buku ini berisi 101 cerita inspiratif tentang mensyukuri karunia dan bersikap positif. Mungkin nanti beberapa kisahnya bakal aku posting disini. Aku mendapatkannya dari Mama, yang membelikannya saat kami berburu buku di Gramedia bulan Desember lalu. Dan buku ini menjadi buku favoritku saat ini :)
Saat ini aku sedang merencanakan untuk membeli buku Chicken Soup lagi tetapi edisi yang lain, mungkin edisi tentang Persahabatan, Khusus Keluarga, atau Cinta :)
Walaupun terlambat, aku mengucapkan Selamat Tahun 2012 untukmu, Blogku :) semoga jari-jariku selalu betah bermain dalam duniamu, semoga kamu tidak bosan menerima semua curhatan dan keluh-kesahk.
Be better, keep struggle! :D
With love,
Dedott :*
Selasa, 15 November 2011
White Rose
Aku berusaha sekuat mungkin menatapnya, aku berusaha sekuat mungkin menahan air mataku, "Enggak apa-apa, Mas."
"Wanita itu kalau bilang enggak apa-apa pasti sebenarnya ada apa-apa."
"Aku...." Ucapku pelan, tatapan kami melekat erat.
"Yasudah. Janji sama aku, enggak pakai air mata."
"Iya, Mas."
"Cepat kembali. Yogya itu bukan tempat kamu untuk singgah, tapi Yogya adalah tempat kamu untuk pulang."
"Aku enggak akan singgah di Yogya, Mas. Aku akan pulang ke Yogya."
"Sekarang aku yang harus pulang. Yang jelas kamu tahu kan perasaanku, Dek? Seorang pria yang memberi bunga pada seorang wanita dengan tatapan yang berbeda, bernama cinta."
Saya lupa kopas dari mana penggalan cerpen itu. Secara tidak sengaja, saya menemukannya dalam sebuah folder yang sudah lama tidak saya tengok :) dan tiba-tiba saya punya ide buat posting disini, hehe.
Saya suka kalimat terakhir potongan cerpen ini. Seorang pria yang memberi bunga pada seoran wanita dengan tatapan yang berbeda, bernama cinta. Saya pikir mungkin itu benar juga. Sebagian besar orang, pasti memilih mawar saat mengungkapkan perasaannya pada orang yang dia kasihi.
Konon katanya, bunga mawar ini sudah digunakan sejak zaman Yunani dan Romawi sebagai sebuah simbol. Orang Yunani menjadikan mawar sebagai simbol dewi mereka, yaitu Aphrodite dan Venus. Mawar punya banyak warna dan makna yang berbeda tiap warnanya. Misalnya, mawar merah mempunyai makna cinta, kecintaan, keberanian, penghormatan dan keromatisan. Jadi mawar merah ini cocok untuk menyatakan perasaan cinta seseorang.
Saya memang belum pernah mendapat mawar dari seorang lelaki, tapi bila suatu saat nanti saya mendapatkannya, saya ingin mawar itu mawar putih :) Orang lain lebih suka mawar merah, tapi entah kenapa saya lebih senang dengan mawar yang satu ini. Mawar putih menyimbolkan cinta sejati, kemurnian dan kesungguhan, kelembutan, kesucian dan kerendahan hati. Menurut saya, bila seseorang memberikan kamu mawar putih, kamu patut berbahagia karena dia ingin menunjukkan ketulusan cintanya kepada kamu :)
With love,
Dedott :*
Jumat, 11 November 2011
11 November 2011
Sekarang tanggal 11 November. 11-11-11. Terus kenapa? Entahlah, saya juga tidak tahu. Tanggalnya memang bagus. Lalu? Saya tidak tahu lagi. Sejak beberapa waktu yang lalu, orang-orang di facebook maupun twitter sudah ramai membicarakan tanggal ini. Memangnya kenapa sih? Hanya karena angkanya bagus ya? -___-
Ya, angkanya memang bagus, lagipula, angka ini jarang. Pasti cuma sekali seumur hidup ada tanggal yang seperti ini :D Mungkin sebagian besar orang menganggap tanggal ini istimewa. Bagi anak-anak muda, banyak yang menunggu momen 111111 ini untuk jadian. Bagi yang jomblo? Berharap diajak balikan mungkin ya sama mantannya? hahaa :D
Ngomong-ngomong, tidak ada yang istimewa bagi saya di hari ini. Apanya yang istimewa? Semuanya berjalan sebagaimana biasanya dalam dunia saya. Matahari tetap terbit dari Timur dan sekolah tetap masuk jam 7. Semua normal dan monoton. Malah sebenarnya, hari ini lumayan menyebalkan. Teman-teman di kelas saya banyak yang tidak berangkat sekolah. Dari total yang (hanya) 20 siswa, hanya 16 orang yang masuk. Kelas rasanya tambah sepi dengan berkurangnya 4 siswa.
Ngomong-ngomong, tidak ada yang istimewa bagi saya di hari ini. Apanya yang istimewa? Semuanya berjalan sebagaimana biasanya dalam dunia saya. Matahari tetap terbit dari Timur dan sekolah tetap masuk jam 7. Semua normal dan monoton. Malah sebenarnya, hari ini lumayan menyebalkan. Teman-teman di kelas saya banyak yang tidak berangkat sekolah. Dari total yang (hanya) 20 siswa, hanya 16 orang yang masuk. Kelas rasanya tambah sepi dengan berkurangnya 4 siswa.
2 orang teman saya yang keduanya perempuan tidak berangkat karena mantenan (jadi penerima tamu) di hajatan saudaranya. Pasti banyak sekali yang yang hajatan hari ini. Kemarin malam saja saat saya pulang dari rumah teman sehabis belajar kelompok, saya melewati 3 rumah yang pastinya menyelenggarakan hajat pada hari ini. Banyak pasangan yang ingin menabadikan pernikahan mereka di tangggal yang angkanya bagus ini. Bagi mereka hari ini luar biasa. Bagi saya? Biasa saja.
Oke, mulai dari awal hari ini. Pagi hari saya bangun jam 03.25 . Pagi sekali ya? Ya, saya sengaja bangun pagi. Selain karena ada tugas yang belum selesai, juga karena hari ini, hari Jumat, saya bertugas piket kos. Setelah selesai menyapu, mengepel, mencuci baju, dan bla-bla-bla, akhirnya saya berangkat sekolah jam 06.45. Sampai di sekolah, ada kejadian yang membuat saya nyesek. Pagi-pagi, di kelas, saya kedatangan teman saya yang saat duduk di sebelah saya, tiba-tiba menangis sambil berkata, "Aku udah nggak kuat, Teh.."
Jujur saya syok dan kaget. Ada apa dengan teman tercinta saya yang satu ini? Ternyata dia ada masalah dengan pacarnya. Lalu dia curhat dan akhirnya bisa kembali tertawa setelah teman-teman yang lain menghiburnya. Pagi yang menggalaukan memang, karena jujur saja saya juga sedang banyak pikiran.
Pelajaran berlangsung monoton seperti biasa. Jam ke 1 dan 2 Fisika, dilanjutkan Bahasa Inggris di jam ke 3 dan 4, lalu Matematika di jam terakhir. Di pelajaran Matematika ini saya kembali dibuat nyesek. Kali ini oleh guru saya, Manager aksel , yaitu Pak Sarwono. Beberapa waktu yang lalu memang beliau mengajak anak-anak untuk mengikuti olimpiade matematika yang diselengarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNS). Seleksi untuk rayon DIY di UNY, hari Minggu tanggal 13 November 2011. Dari kelas saya hanya 4 anak yang berminat untuk ikut. Tadinya saya juga berminat, tapi waktu itu saya ragu-ragu, takut kalah, ribet administrasi, dan lain sebagainya maka saya tidak jadi mendaftarkan diri.
Tadi itu, Pak Sarwono mengumumkan bahwa peserta dari DIY hanya ada 5 orang. Saya kaget. Tentu saja 4 dari 5 orang itu adalah teman-teman saya semuanya. Semuanya berpeluang untuk dapat tiket ke Surabaya masuk 50 besar tingkat nasional, karena tiap rayonnya diambil 2 finalis. Saya langsung lemas. Saya menyesal kenapa dulu itu tidak ikut saja? Padahal kesempatannya terbuka lebar. Hanya karena keraguan saya!
Oke, paling tidak saya belajar, bahwa dalam bertindak, saya harus lebih yakin dan berani dalam mengambil keputusan. Jika sudah terjadi seperti ini, mau bagaimana lagi? Yah.. saya ikut berdoa saja semoga teman-teman saya yang lain bisa masuk ke 50 besar. Dan saya? Nitip oleh-oleh dari Surabaya saja! Hahaa :'D
Setelah pelajaran terakhir usai, teman-teman yang lain melaksanakan sholat Jumat di mushola, dan karena saya sedang berhalangan, saya mengisi waktu dengan ngenet di komputer kelas, hehe. Teman saya Puso dan Koplak minta saya mendownload video Larva. Selesai teman-teman yang lain Jumatan, kami menonton video-video ini bersama. Ternyata lumayan menghibur juga. Mood saya yang tadinya jelek, tiba-tiba jadi bagus :)
Jam 1 dilanjutkan dengan extra lesson alias les. Pertama adalah les Bahasa Indonesia oleh Bu Endang, yang sekaligus juga wali kelas saya, XII Aksel. Suasana kelas jadi tambah sepi karena berkurang dua orang lagi, yaitu Cukinow dan Bebeh Rosyid. Jadilah yang bertahan tinggal 12 orang termasuk saya. Ngomong-ngomong, Bu Endang ini guru favorit saya. Selain orangnya lemah-lembut, beliau juga sabaaaaaaaar sekali :D terutama dalam menghadapi kelas kami, haha.
Foto copy soal Bahasa Indonesiapun dibagikan, dan kami mulai membahasnya bersama. Inilah saat-saat yang menyiksa bagi kami. Karena sudah pasti kami akan mengantuk dan dengan setengah hati memaksa mata kami untuk tetap terbuka. Bahkan teman saya yang duduk di pojok kanan kelas sempat tidur untuk beberapa saat -_____- Saya juga sudah terkantuk-kantuk, tapi dengan semboyan "YANG PENTING NIAT", saya memaksakan diri untuk kembali terjaga dan mengikuti pembahasan soal Bahasa Indonesia itu.
Tapi karena sifat saya yang gampang sekali bosan, saya akhirnya melakukan hal lain: MENGGAMBAR! :D ehm, bukan. lebih tepatnya sih MENCORAT-CORET halaman kosong belakang foto copy soal bahasa Indonesia itu. Saya mencontoh gambar di buku teman saya, dan hasilnya? Tidak jelas:
Gambar apa ya itu? Entahlah, saya juga tidak tahu, hehe. Gambarnya anak kecil sekali yaa? -_____- Untungnya Bu Endang tidak protes saya menggambar, padahal sepertinya beliau sempat melihat saya mencoret-coret, tidak lagi memperhatikan pembahasan soal :D yaa kan saya sudah bilang tadi, Bu Endang orang yang sabar. SALUT :) :*
Jam 2.15 jam Bahasa Indonesia berakhir dan ada jeda sebentar sebelum pindah ke jam selanjutnya, Inggris. Saya iseng keluar sebentar, dan menemukan bahwa hari ini lumayan cerah. Tidak seperti kemarin, menduuuung terus sepanjang hari.
Waktu les Inggris, banyak kejadian lucu yang saya rasakan. Padahal tadinya saya membayangkan ini akan menyebalkan. Entah kenapa dugaan saya salah. Les dipenuhi dengan tawa. Tampaknya Bu Martini selera humornya sedang tinggi hari ini :) Beliau sempat memutarkan lagu yang katanya untuk memotivasi kami. Lagu ini baru pertama kali saya dengar, tampaknya lagu jadul. Saat mendengarnya, entah kenapa saya merinding. Judulnya Greatest Love of All. Maknanya ternyata dalam sekali :')
Finally, les berakhir jam 4 kurang 15 menit. Saat saya berjalan pulang dengan teman tercinta saya menuju kos, kami sempat melihat pelangi di atas sawah. Sawah? Iya sawah :D ini penampakannya:
Agak tidak jelas memang, sudah samar-samar. Ujung pelanginya dari bawah tengah sawah itu melengkung ke arah kiri. Kelihatan? Kalau belum, tajamkan matamu! :D
Sudah lama juga saya tidak melihat pelangi. Tak lama setelah pelangi itu semakin memudar, gerimis rintik-rintik datang dan disusul hujan yang semakin lebat beberapa saat kemudian. Saya habiskan sore ini dengan membaca novel hasil curian dari Koplak :D
21:47
Jam segini, saya masih menyelesaikan tugas Bahasa Inggris Task 1 dan 2 yang banyaknya minta ampun. Belum lagi saya harus menyalin catatan biologi saya. Saya yakin teman-teman yang lain juga sebagian besar masih berkutat dengan tugasnya masing-masing. Mata saya belum lelah, tapi badan saya sudah mulai terasa pegal :(
Rencana saya malam ini akan menyelesaikan novel curian, karena besok Koplak pasti sudah mengomel-ngomel karena saya bawa novel ini tanpa pamit, padahal dia saja belum selesai membacanya :D TUGAS BAHASA INGGRIS? ah santai, BESOK SAJALAH :) saya sudah tidak bisa berkonsentrasi kalau sudah jam segini. Besok pagi rasanya lebih efektiv untuk mengerjakan tugas :)
Secara keseluruhan, hari ini memang biasa saja, tapi tetap menyenangkan bagi saya. Saya bersyukur karena Tuhan memberi saya teman-teman, orang-orang di dekat saya yang begitu menyayangi saya, sehingga bagaimanapun buruknya hari yang saya lalui, saya tetap bisa tersenyum karena ada mereka :)
ini cerita 111111-ku, apa cerita 111111-mu? :D
With love,
Dedott :*
Jam 1 dilanjutkan dengan extra lesson alias les. Pertama adalah les Bahasa Indonesia oleh Bu Endang, yang sekaligus juga wali kelas saya, XII Aksel. Suasana kelas jadi tambah sepi karena berkurang dua orang lagi, yaitu Cukinow dan Bebeh Rosyid. Jadilah yang bertahan tinggal 12 orang termasuk saya. Ngomong-ngomong, Bu Endang ini guru favorit saya. Selain orangnya lemah-lembut, beliau juga sabaaaaaaaar sekali :D terutama dalam menghadapi kelas kami, haha.
Foto copy soal Bahasa Indonesiapun dibagikan, dan kami mulai membahasnya bersama. Inilah saat-saat yang menyiksa bagi kami. Karena sudah pasti kami akan mengantuk dan dengan setengah hati memaksa mata kami untuk tetap terbuka. Bahkan teman saya yang duduk di pojok kanan kelas sempat tidur untuk beberapa saat -_____- Saya juga sudah terkantuk-kantuk, tapi dengan semboyan "YANG PENTING NIAT", saya memaksakan diri untuk kembali terjaga dan mengikuti pembahasan soal Bahasa Indonesia itu. Tapi karena sifat saya yang gampang sekali bosan, saya akhirnya melakukan hal lain: MENGGAMBAR! :D ehm, bukan. lebih tepatnya sih MENCORAT-CORET halaman kosong belakang foto copy soal bahasa Indonesia itu. Saya mencontoh gambar di buku teman saya, dan hasilnya? Tidak jelas:
Gambar apa ya itu? Entahlah, saya juga tidak tahu, hehe. Gambarnya anak kecil sekali yaa? -_____- Untungnya Bu Endang tidak protes saya menggambar, padahal sepertinya beliau sempat melihat saya mencoret-coret, tidak lagi memperhatikan pembahasan soal :D yaa kan saya sudah bilang tadi, Bu Endang orang yang sabar. SALUT :) :*
Jam 2.15 jam Bahasa Indonesia berakhir dan ada jeda sebentar sebelum pindah ke jam selanjutnya, Inggris. Saya iseng keluar sebentar, dan menemukan bahwa hari ini lumayan cerah. Tidak seperti kemarin, menduuuung terus sepanjang hari.
Waktu les Inggris, banyak kejadian lucu yang saya rasakan. Padahal tadinya saya membayangkan ini akan menyebalkan. Entah kenapa dugaan saya salah. Les dipenuhi dengan tawa. Tampaknya Bu Martini selera humornya sedang tinggi hari ini :) Beliau sempat memutarkan lagu yang katanya untuk memotivasi kami. Lagu ini baru pertama kali saya dengar, tampaknya lagu jadul. Saat mendengarnya, entah kenapa saya merinding. Judulnya Greatest Love of All. Maknanya ternyata dalam sekali :')
Finally, les berakhir jam 4 kurang 15 menit. Saat saya berjalan pulang dengan teman tercinta saya menuju kos, kami sempat melihat pelangi di atas sawah. Sawah? Iya sawah :D ini penampakannya:
Agak tidak jelas memang, sudah samar-samar. Ujung pelanginya dari bawah tengah sawah itu melengkung ke arah kiri. Kelihatan? Kalau belum, tajamkan matamu! :D
Sudah lama juga saya tidak melihat pelangi. Tak lama setelah pelangi itu semakin memudar, gerimis rintik-rintik datang dan disusul hujan yang semakin lebat beberapa saat kemudian. Saya habiskan sore ini dengan membaca novel hasil curian dari Koplak :D
21:47
Jam segini, saya masih menyelesaikan tugas Bahasa Inggris Task 1 dan 2 yang banyaknya minta ampun. Belum lagi saya harus menyalin catatan biologi saya. Saya yakin teman-teman yang lain juga sebagian besar masih berkutat dengan tugasnya masing-masing. Mata saya belum lelah, tapi badan saya sudah mulai terasa pegal :(
Rencana saya malam ini akan menyelesaikan novel curian, karena besok Koplak pasti sudah mengomel-ngomel karena saya bawa novel ini tanpa pamit, padahal dia saja belum selesai membacanya :D TUGAS BAHASA INGGRIS? ah santai, BESOK SAJALAH :) saya sudah tidak bisa berkonsentrasi kalau sudah jam segini. Besok pagi rasanya lebih efektiv untuk mengerjakan tugas :)
Secara keseluruhan, hari ini memang biasa saja, tapi tetap menyenangkan bagi saya. Saya bersyukur karena Tuhan memberi saya teman-teman, orang-orang di dekat saya yang begitu menyayangi saya, sehingga bagaimanapun buruknya hari yang saya lalui, saya tetap bisa tersenyum karena ada mereka :)
ini cerita 111111-ku, apa cerita 111111-mu? :D
With love,
Dedott :*
Rabu, 09 November 2011
Kamu Bisa :)
Dulu, saat aku dan kamu, kita, akan berpisah, kamu
memaksaku untuk tetap tinggal. Matamu berkaca-kaca, dan sambil menggenggam
tanganku kamu berkata,
"Kamu inget ngga, dulu waktu kita liat bintang berdua pas
ultah jadian kita yang ke-6 bulan, kamu bilang sama aku, kita bakalan terus sama-sama.
Walaupun kita jauhan dan nggak bareng-bareng, tapi kita ngga akan pisah.
Kamu inget kan pernah bilang gitu sama aku, sayang?"
Tanganmu makin erat menggenggam kedua tanganku, aku tahu kamu
ingin menangis. Waktu itu, bisa saja aku memintamu untuk menangis. Menurutku, kamu
tidak perlu menyembunyikan perasaanmu. Menangis tidak selalu berarti lemah.
Tapi aku juga tahu, kamu tidak akan pernah menangis di depanku. Gengsimu
sebagai lelaki yang melarangnya.
"Kenapa kamu cuma diam?" Sekali lagi kamu bertanya.
Kali ini tanganmu memegang bahuku. Tapi aku tidak akan mau menatap matamu
walaupun kamu memaksaku. Aku lebih memilih untuk tetap diam. Dan waktu itu, aku
merasa lebih baik tetap menunduk daripada memandang wajamu, wajah laki-laki yang
dulu amat kusayangi.
"Terlalu banyak kenangan yang udah kita buat. Terlalu banyak
waktu yang aku lalui sama kamu. Aku ngga akan bisa kalau tanpa kamu. Aku ngga
akan bisa lupain semuanya." Kamu masih mencoba mempengaruhi aku,
membujukku untuk tinggal. Apa kamu tahu, semakin banyak kamu mengungkit,
semakin aku ragu dengan keputusan awalku. Tapi aku tahu apa yang seharusnya aku
lakukan.
Kulepaskan kedua tanganmu dari bahuku, dan beranjak duduk di
bangku. Dengan langkah gontai, kamu mengikutiku. Kali ini, kamupun ikut
menunduk. Mungkin kamu sudah mulai lelah bicara padaku dan meyakinkan aku,
tapi aku salah.
"Kalo ngga ada kamu, siapa nanti yang tiap pagi aku dengar
suaranya? Siapa yang ingetin aku makan dan belajar? Siapa yang aku curhatin
lagi kalau aku punya masalah? Siapa nanti yang aku beliin eskrim tiap hari
minggu? Siapa yang peluk aku kalau aku lagi lemah? Siapa yang bakal nyanyiin
lagu buat aku tiap aku mau tidur? Hubungan kita udah lebih dari setahun dan
harus berakhir sampai sini? Aku ngga bisa kalo tanpa kamu..."
Pertanyaan-pertanyaan kamu waktu itu membuat aku hampir menangis.
Mataku sudah panas dan sebentar lagi butir-butir bening bening air siap jatuh.
Tapi untuk waktu itu, hanya sekali itu, aku menahannya untuk kamu. Aku tidak
ingin pertemuan terakhir kita rusak karena air mataku. Andai kamu tahu, malam
sebelum hari itu aku sudah menumpahkan banyak air mataku untuk kamu, untuk
kenangan kita, untuk bintang yang kita lihat bersama, untuk eskrim yang kita
makan tiap hari minggu, untuk boneka kelinci yang kamu beri saat ulang tahunku,
untuk setiap lagu yang kamu cipta untukku, untuk pelukanmu yang selalu kuatkan
aku, untuk semua perhatian yang kamu beri tiap detik, dan untuk ribuan hal
indah lain yang kamu lakukan hanya untukku.
"Aku minta maaf karena ngelakuin ini sama kamu. Aku ngga
bisa nepatin janji-janji yang dulu kita buat. Kalau harus milih, aku juga ngga
mau ninggalin kamu. Tapi ini demi masa depan aku. Aku minta maaf.."
"Tapi aku ngga bisa kalau ngga ada kamu!"
Tiba-tiba kamu membentakku. Mungkin sebagai wujud putus asa dan
kekecewaan kamu padaku, yang hanya bisa meminta maaf. Aku kembali menunduk. Aku
rasa, tanpa perlu aku banyak bicara, kamu sudah mengerti bahwa memang ini yang
terbaik untuk kita berdua. Bukankah sebelumnya kita sudah sering
membicarakannya?
"Kamu bisa sayang. Aku yakin kamu bisa tanpa aku. Kamu
percaya kan? Kamu kuat. Kalau Tuhan mengijinkan, mungkin suatu saat nanti kita
dipersatukan lagi. Kamu harus ingat, hanya karena kita terbiasa bahagia dengan seseorang,
bukan berarti kita tidak bisa bahagia kalau tanpa dia."
Setelah
berkata seperti itu, aku memelukmu dan meminta maaf untuk terakhir kali. Aku
meninggalkan kamu yang terdiam dan terus saja memandangiku.
Aku tahu aku jahat. Tapi, waktu itu aku sama sakitnya dengan
kamu. Siapa yang tidak sedih jika harus meninggalkan orang yang kita sayang?
Tapi aku menyerah pada keadaan. Waktu itu aku belum siap jika harus menjalin
hubungan yang terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh. Aku rasa hal itu tidak
akan berhasil. Maka aku memilih untuk mengabaikan kamu yang terluka.
Kamu bilang bahwa kamu tidak akan bisa tanpa aku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku
tahu hal itu tidak lagi berlaku. Siapapun, tidak ada yang siap untuk
kehilangan seseorang yang berarti bagi dia. Tapi bagaimanapun juga, mau tidak
mau, kita harus menerimanya. Rasa
sakit adalah pembelajaran. Bila
dalam suatu hubungan kamu masih sering bersikap egois, pemaksa, atau pemarah,
setelah putus kamu harus belajar bahwa hal itu salah, bahwa mungkin karena hal
itu hubungan kalian berakhir. Dan kamu harus menyadari bahwa hal itu salah dan
mencoba untuk bersikap lebih baik lagi dalam hubunganmu yang selanjutnya. Bila
sudah seperti itu, berarti kamu sudah belajar :)
Finally,
kamu bisa tanpa aku. Mungkin sekarang kamu sudah bisa tersenyum tanpa aku. Kamu
mungkin sudah melupakan rasa sakitmu. Aku tahu kamu belajar dari hubungan kita
dulu. Mungkin kamu sudah temukan seseorang yang baru saat ini. Ya, kamu bisa.
Maka, selamat berbahagia! :)
With
love,
Dedott
:*
Selasa, 01 November 2011
Tentang Menulis
Sebenarnya, saya tidak pandai menulis. Tapi saya suka :) Merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, begitu seterusnya. Rasanya menyenangkan mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita ke dalam tulisan. Entah itu sekadar perasaan kita, kegiatan kita, atau cerpen, ya apapun yang kita mau.
Kebiasaan saya menulis di mulai sejak SD. Mungkin sekitar kelas 4 atau 5. Mama saya memang selalu mengajak anak-anaknya untuk gemar membaca. Dulu saya sempat langganan majalah Bobo, yang tokohnya kelinci lucu berwarna biru itu. Dari kebiasaan membaca itulah, lama-kelamaan saya jadi tertarik untuk menulis. Awalnya hanya sebatas menulis di buku diary, dimulai dengan kata-kata "Dear Diary..." haha, saya jadi ingat buku harian saya sewaktu SD. Saya punya banyak sekali buku harian, yang rata-rata berisi kegiatan saya sehari-hari. Cerita saya di rumah, di sekolah, bersama teman-teman, cinta monyet, sampai cinta kingkongnya.
Saat saya membaca buku diary itu lagi, saya jadi kepikiran untuk membuat cerpen. Dulu memang masih sederhana, tapi sudah ada beberapa pembaca setia saya, tentu saja teman-teman dekat saya, hehe. Mereka bilang tulisan saya bagus, (walaupun saya yakin kenyataannya tidak sebagus itu :p ) dan mereka terus memotivasi saya untuk menulis. Begitu juga dengan Mama, kebetulan karena beliau seorang guru Bahasa Indonesia, saya banyak belajar tentang bagaimana menulis yang baik.
Namun karena waktu saya SMP saya lebih fokus ke dunia olahraga, yaitu bola voli, saya lebih sering mengabaikan dunia tulis menulis ini. Saat masuk SMA, saya juga sudah tidak terlalu tertarik untuk menulis. Paling-paling saya masih gemar membuat puisi dari pada menulis cerpen atau artikel seperti dulu. Menurut saya membuat puisi itu malah lebih mudah, karena saat sedang diam pun kadang saya mendapat inspirasi, saya menyebutnya ilham :D hehe.
Beberapa waktu lalu, saya meminta salah satu teman dekat saya semasa SD untuk membuka blog saya ini. Saya ingin mendengar pendapat dia mengenai tulisan saya sekarang. Dan setelah membacanya, dia menelephone saya.
"Tulisan kamu bagus-bagus kok. Kamu tetep pinter nulis kayak dulu." Ujarnya. Saya hanya tertawa dipuji seperti itu. Saya tahu, dia orangnya memang pandai memuji.
"Tapi ada yang lain ya rasanya.." Lanjutnya lagi.
"Oya? Lain gimana maksudnya?" Tanya saya penasaran.
"Waktu aku baca tulisan kamu, aku nangkep auranya kok sedih ya? Suram gitu lho. Gaya bahasa yang kamu pake sekarang beda deh dari yang dulu. Sekarang lebih dalem, tapi sedih. Eh kamu inget nggak, cerpen kamu yang judulnya Biru Muda? Itu salah satu favorit aku. Aku seneng sama cara kamu ceritanya, ceria, polos, masa kecil yang bahagia. Enggak kayak yang sekarang itu. Kamu kalo cerita yang bikin orang lain seneng dong, jangan malah bikin nangis, hehe.."
Saat saya mencermati komentar teman saya itu, saya merasa memang ada benarnya juga. Gaya saya bercerita berbeda dari dulu. Dulu saya selalu bercerita tentang hal yang menyenangkan, yang gembira. Mungkin kalau dulu, saya sebagai anak kecil, memang yang ada di pikiran saya cuma kegembiraan. Matahari cerah yang terbit tiap pagi, kupu-kupu di taman yang penuh bunga, kasih sayang orang tua, pelangi setelah hujan reda.. ya hal semacam itulah.
Kalau sekarang, mungkin karena saya sudah mulai berfikir lebih dewasa, sudah tahu rasanya kehilangan, disakiti, dan sebagainya yang menyakitkan, cara saya bercerita lebih didominasi hal-hal seperti itu. Tapi saya selalu menerima kritik dan saran dari teman-teman ataupun pembaca yang membaca tulisan saya ini. Saya masih muda (jiaah :p ) masih awam dan hijau dalam dunia pena ini. Masih banyak yang perlu saya perbaiki, masih banyak yang harus saya pelajari. Jadi harap dimaklumi kalau kemampuan saya menulis masih ecek-ecek alias tingkat bawah.
Sekarang, menulis hanya saya lakukan sebagai hobi saja. Menanggapi komentar teman saya tadi, saya jadi kepikiran untuk membuat tulisan yang berkesan 'menyenangkan' seperti dulu. Dan saat ini saya masih dalam tahap mencari ilham, haha :D
Hey ilham, dimana kamuuuu?
With love,
Dedott :*
Langganan:
Postingan (Atom)





















