Senin, 14 November 2011

Mimpi

Mengapa kita bermimpi?
Pada waktu tidur, hanya tubuh yang beristirahat. Otak tidak. Otak bekerja tanpa henti. Saat tubuh tidur, otak menggunakan waktu tersebut untuk memroses kejadian saat sadar (sebelum tidur). Otak menilai dan menyimpan peristiwa keseharian kita.

Apa yang kita impikan?
Secara umum: kejadian riil. Tapi bisa juga dalam simbol. Contoh: ketika kamu punya masalah di tempat kerja, bertengkar dengan atasan atau teman sekerja. Malam harinya kamu bermimpi sedang berada di suatau tempat di mana terjadi gempa bumi. Segala sesuatu di sekitarmu berantakan.
 
Apakah mimpi itu pemberi petunjuk tertentu?
Ya, namun bukan dalam arti canayang atau nubuatan. Mimpi itu bagai kaca pembesar. Mimpi menunjukkan pada kita masalah nyata, misalnya soal job atau pacar. Atau kekhawatiran. Semua itu dalam mimpi ditampilkan lewat gambar atau tayangan drastis, yang seolah lebih diperbesar lagi.

Mengapa kita cuma ingat akan impi tertentu?
Semakin lama dan intensiv tidur kita, semakin bagus kita bisa mengingat mimpi apa. Jika kita bangun dari tidur gara-gara dering weker, maka kita bakal sulit mengingat mimpi yang telah terjadi. Jika kita bisa bangun siang tanpa beban, misalnya saat hari libur, maka kita bisa lebih baik mengingat mimpi. Mimpi negatif lebih mudah disimpan ketimbang mimpi hal-hal yang positif.

Apa sih faedah mimpi?
Penelitian masih belum bisa memastikan, apakah mimpi punya manfaat tertentu. Satu yang sudah pasti, tidur itu penting bagi memori manusia. Bagai komputer, saat tidur itulah otak melakukan pengamanan data dan/atau informasi.

Dapatkah kita mempengaruhi mimpi kita?
Ya, tapi hanya manusia tertentu saja yang mampu melakukannya. Lewat meditasi. Manusia yang terbiasa bermeditasi dapat mempengaruhi mimpi mereka dengan gampang. Kita yang tidak terbiasa bermeditasi, hampir tak mungkin mampu menentukan jalannya sang mimpi. Memaksakan diri dijamin tidak akan berhasil, misalnya konsentrasi akan hal tertentu 5 menit sebelum tidur. Karena otak kita memroses peristiwa sehari-hari yang dialami dan bukan apa-apa yang kita pikir 5 menit sebelum tidur.

Kapan kita mimpi?
Waktu paling intensif saat mimpi adalah di fase REM (Rapid Eye Movement). Dinyatakan oleh gerakan cepat sang bola mata. Umumnya waktu dini hari, sebelum bangun. Mimpi yang terjadi pada saat inilah yang dapat paling banyak kita ingat. Kita tidak ingat akan mimpi sebelumnya.



Dapatkah kita melanjutkan mimpi, setelah terjaga sejenak?
Hanya segelintir manusia yang mampu melakukannya. Umumnya oleh mereka yang terbiasa melakukan meditasi atau doa yang hening. Secara umum mimpi berikutnya adalah mimpi hal lain.

Bagaimana mengartikan mimpi?
Mimpi sulit sekali diartikan, karena ia itu individual dan tidak jelas. Masalah seseorang bagi manusia lain akan menjadi problem baru yang tidak sama.

Mengapa anak-anak lebih sering mimpi dibanding orang dewasa?
Anak-anak belum terbiasa membedakan kejadian nyata dengan perasaan yang kadang bercampur fiksi. Khayalan dan kenyataan lebih sulit dibedakan oleh anak-anak ketimbang manusia dewasa. Oleh sebab itu otak anak-anak harus bekerja lebih keras untuk memroses peristiwa keseharian.

Apa ada pola mimpi yang kerap datang kembali?
Ya. Misalnya saat sedang ujian, telanjang bulat di muka umum, datang terlambat, dikejar-kejar, jatuh dari ketinggian, dan tenggelam. Karena itu penting sekali untuk mengedepankan pola dasar sebagai titik utama untuk mengartikan sebuah mimpi.

Jumat, 11 November 2011

Greatest Love off All

GREATEST LOVE OF ALL
By Whitney Houston

I  believe the children are our are future
Teach them and let them lead the way
Show them all the bauty they possess inside
 Give them a sense of pride to make it easier
Lat the children's laughter remind us how we used to be
Everybody searching for a hero
People need someone to look up too
I never anyone to fulfil my needs
A lonely place to be 
So I learned to depend on me

I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fall, if I succeed at least I live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love off all is happening to me
 The greatest love of all is easy is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love off all

I  believe the children are our are future
Teach them and let them lead the way
Show them all the bauty they possess inside
 Give them a sense of pride to make it easier
Lat the children's laughter remind us how we used to be

And if by chance, that special place
That you've been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strenght in love



With love,
Dedott :*


11 November 2011

Sekarang tanggal 11 November. 11-11-11. Terus kenapa? Entahlah, saya juga tidak tahu. Tanggalnya memang bagus. Lalu? Saya tidak tahu lagi. Sejak beberapa waktu yang lalu, orang-orang di facebook maupun twitter sudah ramai membicarakan tanggal ini. Memangnya kenapa sih? Hanya karena angkanya bagus ya? -___-
          Ya, angkanya memang bagus, lagipula, angka ini jarang. Pasti cuma sekali seumur hidup ada tanggal yang seperti ini :D Mungkin sebagian besar orang menganggap tanggal ini istimewa. Bagi anak-anak muda, banyak yang menunggu momen 111111 ini untuk jadian. Bagi yang jomblo? Berharap diajak balikan mungkin ya sama mantannya? hahaa :D
       Ngomong-ngomong, tidak ada yang istimewa bagi saya di hari ini. Apanya yang istimewa? Semuanya berjalan sebagaimana biasanya dalam dunia saya. Matahari tetap terbit dari Timur dan sekolah tetap masuk jam 7. Semua normal dan monoton. Malah sebenarnya, hari ini lumayan menyebalkan. Teman-teman di kelas saya banyak yang tidak berangkat sekolah. Dari total yang (hanya) 20 siswa, hanya 16 orang yang masuk. Kelas rasanya tambah sepi dengan berkurangnya 4 siswa.
       2 orang teman saya yang keduanya perempuan tidak berangkat karena mantenan (jadi penerima tamu) di hajatan saudaranya. Pasti banyak sekali yang yang hajatan hari ini. Kemarin malam saja saat saya pulang dari rumah teman sehabis belajar kelompok, saya melewati 3 rumah yang pastinya menyelenggarakan hajat pada hari ini. Banyak pasangan yang ingin menabadikan pernikahan mereka di tangggal yang angkanya bagus ini. Bagi mereka hari ini luar biasa. Bagi saya? Biasa saja.
        Oke, mulai dari awal hari ini. Pagi hari saya bangun jam 03.25 . Pagi sekali ya? Ya, saya sengaja bangun pagi. Selain karena ada tugas yang belum selesai, juga karena hari ini, hari Jumat, saya bertugas piket kos. Setelah selesai menyapu, mengepel, mencuci baju, dan bla-bla-bla, akhirnya saya berangkat sekolah jam 06.45. Sampai di sekolah, ada kejadian yang membuat saya nyesek. Pagi-pagi, di kelas, saya kedatangan teman saya yang saat duduk di sebelah saya, tiba-tiba menangis sambil berkata, "Aku udah nggak kuat, Teh.." 
        Jujur saya syok dan kaget. Ada apa dengan teman tercinta saya yang satu ini? Ternyata dia ada masalah dengan pacarnya. Lalu dia curhat dan akhirnya bisa kembali tertawa setelah teman-teman yang lain menghiburnya. Pagi yang menggalaukan memang, karena jujur saja saya juga sedang banyak pikiran.
        Pelajaran berlangsung monoton seperti biasa. Jam ke 1 dan 2 Fisika, dilanjutkan Bahasa Inggris di jam ke 3 dan 4, lalu Matematika di jam terakhir. Di pelajaran Matematika ini saya kembali dibuat nyesek. Kali ini oleh guru saya, Manager aksel , yaitu Pak Sarwono. Beberapa waktu yang lalu memang beliau mengajak anak-anak untuk mengikuti olimpiade matematika yang diselengarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNS). Seleksi untuk rayon DIY di UNY, hari Minggu tanggal 13 November 2011. Dari kelas saya hanya 4 anak yang berminat untuk ikut. Tadinya saya juga berminat, tapi waktu itu saya ragu-ragu, takut kalah, ribet administrasi, dan lain sebagainya maka saya tidak jadi mendaftarkan diri.
        Tadi itu, Pak Sarwono mengumumkan bahwa peserta dari DIY hanya ada 5 orang. Saya kaget. Tentu saja 4 dari 5 orang itu adalah teman-teman saya semuanya. Semuanya berpeluang untuk dapat tiket ke Surabaya masuk 50 besar tingkat nasional, karena tiap rayonnya diambil 2 finalis. Saya langsung lemas. Saya menyesal kenapa dulu itu tidak ikut saja? Padahal kesempatannya terbuka lebar. Hanya karena keraguan saya! 
        Oke, paling tidak saya belajar, bahwa dalam bertindak, saya harus lebih yakin dan berani dalam mengambil keputusan. Jika sudah terjadi seperti ini, mau bagaimana lagi? Yah.. saya ikut berdoa saja semoga teman-teman saya yang lain bisa masuk ke 50 besar. Dan saya? Nitip oleh-oleh dari Surabaya saja! Hahaa :'D
        Setelah pelajaran terakhir usai, teman-teman yang lain melaksanakan sholat Jumat di mushola, dan karena saya sedang berhalangan, saya mengisi waktu dengan ngenet di komputer kelas, hehe. Teman saya Puso dan Koplak minta saya mendownload video Larva. Selesai teman-teman yang lain Jumatan, kami menonton video-video ini bersama. Ternyata lumayan menghibur juga. Mood saya yang tadinya jelek, tiba-tiba jadi bagus :)
        Jam 1 dilanjutkan dengan extra lesson alias les. Pertama adalah les Bahasa Indonesia oleh Bu Endang, yang sekaligus juga wali kelas saya, XII Aksel. Suasana kelas jadi tambah sepi karena berkurang dua orang lagi, yaitu Cukinow dan Bebeh Rosyid. Jadilah yang bertahan tinggal 12 orang termasuk saya. Ngomong-ngomong, Bu Endang ini guru favorit saya. Selain orangnya lemah-lembut, beliau juga sabaaaaaaaar sekali :D terutama dalam menghadapi kelas kami, haha. 

Foto copy soal Bahasa Indonesiapun dibagikan, dan kami mulai membahasnya bersama. Inilah saat-saat yang menyiksa bagi kami. Karena sudah pasti kami akan mengantuk dan dengan setengah hati memaksa mata kami untuk tetap terbuka. Bahkan teman saya yang duduk di pojok kanan kelas sempat tidur untuk beberapa saat -_____- Saya juga sudah terkantuk-kantuk, tapi dengan semboyan "YANG PENTING NIAT", saya memaksakan diri untuk kembali terjaga dan mengikuti pembahasan soal Bahasa Indonesia itu. 


Tapi karena sifat saya yang gampang sekali bosan, saya akhirnya melakukan hal lain: MENGGAMBAR! :D ehm, bukan. lebih tepatnya sih MENCORAT-CORET halaman kosong belakang foto copy soal bahasa Indonesia itu. Saya mencontoh gambar di buku teman saya, dan hasilnya? Tidak jelas: 


Gambar apa ya itu? Entahlah, saya juga tidak tahu, hehe. Gambarnya anak kecil sekali yaa? -_____- Untungnya Bu Endang tidak protes saya menggambar, padahal sepertinya beliau sempat melihat saya mencoret-coret, tidak lagi memperhatikan pembahasan soal :D yaa kan saya sudah bilang tadi, Bu Endang orang yang sabar. SALUT :) :*

         Jam 2.15 jam Bahasa Indonesia berakhir dan ada jeda sebentar sebelum pindah ke jam selanjutnya, Inggris. Saya iseng keluar sebentar, dan menemukan bahwa hari ini lumayan cerah. Tidak seperti kemarin, menduuuung terus sepanjang hari. 
          Waktu les Inggris, banyak kejadian lucu yang saya rasakan. Padahal tadinya saya membayangkan ini akan menyebalkan. Entah kenapa dugaan saya salah. Les dipenuhi dengan tawa. Tampaknya Bu Martini selera humornya sedang tinggi hari ini :) Beliau sempat memutarkan lagu yang katanya untuk memotivasi kami. Lagu ini baru pertama kali saya dengar, tampaknya lagu jadul. Saat mendengarnya, entah kenapa saya merinding. Judulnya Greatest Love of All.  Maknanya ternyata dalam sekali :')
          Finally, les berakhir jam 4 kurang 15 menit. Saat saya berjalan pulang dengan teman tercinta saya menuju kos, kami sempat melihat pelangi di atas sawah. Sawah? Iya sawah :D ini penampakannya:



Agak tidak jelas memang, sudah samar-samar. Ujung pelanginya dari bawah tengah sawah itu melengkung ke arah kiri. Kelihatan? Kalau belum, tajamkan matamu! :D 
       Sudah lama juga saya tidak melihat pelangi. Tak lama setelah pelangi itu semakin memudar, gerimis rintik-rintik datang dan disusul hujan yang semakin lebat beberapa saat kemudian. Saya habiskan sore ini dengan membaca novel hasil curian dari Koplak :D


21:47
Jam segini, saya masih menyelesaikan tugas Bahasa Inggris Task 1 dan 2 yang banyaknya minta ampun. Belum lagi saya harus menyalin catatan biologi saya. Saya yakin teman-teman yang lain juga sebagian besar masih berkutat dengan tugasnya masing-masing. Mata saya belum lelah, tapi badan saya sudah mulai terasa pegal :(
       Rencana saya malam ini akan menyelesaikan novel curian, karena besok Koplak pasti sudah mengomel-ngomel karena saya bawa novel ini tanpa pamit, padahal dia saja belum selesai membacanya :D TUGAS BAHASA INGGRIS? ah santai, BESOK SAJALAH :) saya sudah tidak bisa berkonsentrasi kalau sudah jam segini. Besok pagi rasanya lebih efektiv untuk mengerjakan tugas :)


Secara keseluruhan, hari ini memang biasa saja, tapi tetap menyenangkan bagi saya. Saya bersyukur karena Tuhan memberi saya teman-teman, orang-orang di dekat saya yang begitu menyayangi saya, sehingga bagaimanapun buruknya hari yang saya lalui, saya tetap bisa tersenyum karena ada mereka :) 
ini cerita 111111-ku, apa cerita 111111-mu? :D

With love,
Dedott :*

Kamis, 10 November 2011

Monolog : Cinta dan Agama


A: “Jadi, bagaimana jawabanmu?”

B: “Sepertinya aku tidak bisa.”

A: “Lho, memangnya kenapa? Kita sudah lama dekat, kau juga pernah bilang tentang perasaanmu, kenapa sekarang kamu menolakku? Apa lagi? Kerjaanku kurang mapan? Wajahku kurang tampan buatmu?”

B: “Pokoknya aku tidak bisa mas, maaf.”

A: “Ya kenapa? Beri aku alasan. Aku kekuranganku?”

B: “Bukan masalah itu... Kamu baik, kamu lelaki mapan, kamu tampan, aku suka. Aku sayang kamu mas, tapi kita berbeda.”

A: “Beda? Beda bagaimana maksudmu?”

B: “Agama kita.”

A: “Agama? Agama kita berbeda? Lalu kenapa kalau agama kita beda? Hanya karena aku Katolik dan kamu Islam, kenapa harus jadi masalah?”

B: “Ya aku tidak bisa. Kamu pikirkan ke depannya dong mas. Umurku hampir 25 tahun, aku pacaran bukan mau main-main lagi. Aku sudah dewasa dan orangtuaku sudah mulai membicarakan tentang pernikahanku. Kalau misal kita pacaran dan nantinya merencanakan pernikahan, orangtuaku tidak bakal setuju mas.”

A: “Hanya gara-gara itu? Ayolah, apanya yang salah?”

B: “Setahuku, memang tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya soal waktu dan keadaan.”

A: “Lalu, kenapa harus kita permasalahkan? Bukankah kita ada di Indonesia, negara yang melihat perbedaan sebagai keindahan? Lagi pula, cinta tidak memandang agama.”

B: “Cinta memang tak memandang agama, tapi kadang cinta gagal menyatukan agama walau dua orang saling jatuh cinta.”

A: “Tapi bagaimana dengan aku, dengan kita?”

B: “Gelap tak mungkin bersatu dengan terang. Aku memang menyayangimu mas, tapi aku tidak bisa mencintai orang yang tidak mencintai Tuhanku.”

A: “Tidak ada istilah Tuhan-ku atau Tuhan-mu. Tuhan ya Tuhan. Dia Esa, satu. Cara kita menyembahnya saja yang berbeda. Apakah seseorang yang mencintai kamu harus memeluk agama yang sama denganmu?”

B: “Bukan seperti itu maksudku mas. Bagiku agamaku, bagimu agamaku. Jalani saja pilihanmu, kita saja yang tidak bisa bersatu.”

A: “Sebenarnya, apa yang salah dari mencintai orang yang tempat ibadahnya berbeda dengan kita?”

B: “Entahlah, aku belum pernah berpikir sejauh itu.”


With love,
Dedott :)



Rabu, 09 November 2011

Kamu Bisa :)

       Dulu, saat aku dan kamu, kita, akan berpisah, kamu memaksaku untuk tetap tinggal. Matamu berkaca-kaca, dan sambil menggenggam tanganku kamu berkata,
      "Kamu inget ngga, dulu waktu kita liat bintang berdua pas ultah jadian kita yang ke-6 bulan, kamu bilang sama aku, kita bakalan terus sama-sama. Walaupun kita jauhan dan nggak bareng-bareng, tapi kita ngga akan pisah. Kamu inget kan pernah bilang gitu sama aku, sayang?"
      Tanganmu makin erat menggenggam kedua tanganku, aku tahu kamu ingin menangis. Waktu itu, bisa saja aku memintamu untuk menangis. Menurutku, kamu tidak perlu menyembunyikan perasaanmu. Menangis tidak selalu berarti lemah. Tapi aku juga tahu, kamu tidak akan pernah menangis di depanku. Gengsimu sebagai lelaki yang melarangnya.
      "Kenapa kamu cuma diam?" Sekali lagi kamu bertanya. Kali ini tanganmu memegang bahuku. Tapi aku tidak akan mau menatap matamu walaupun kamu memaksaku. Aku lebih memilih untuk tetap diam. Dan waktu itu, aku merasa lebih baik tetap menunduk daripada memandang wajamu, wajah laki-laki yang dulu amat kusayangi.
      "Terlalu banyak kenangan yang udah kita buat. Terlalu banyak waktu yang aku lalui sama kamu. Aku ngga akan bisa kalau tanpa kamu. Aku ngga akan bisa lupain semuanya." Kamu masih mencoba mempengaruhi aku, membujukku untuk tinggal. Apa kamu tahu, semakin banyak kamu mengungkit, semakin aku ragu dengan keputusan awalku. Tapi aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan.
      Kulepaskan kedua tanganmu dari bahuku, dan beranjak duduk di bangku. Dengan langkah gontai, kamu mengikutiku. Kali ini, kamupun ikut menunduk. Mungkin kamu sudah mulai lelah bicara padaku dan meyakinkan aku, tapi aku salah.
      "Kalo ngga ada kamu, siapa nanti yang tiap pagi aku dengar suaranya? Siapa yang ingetin aku makan dan belajar? Siapa yang aku curhatin lagi kalau aku punya masalah? Siapa nanti yang aku beliin eskrim tiap hari minggu? Siapa yang peluk aku kalau aku lagi lemah? Siapa yang bakal nyanyiin lagu buat aku tiap aku mau tidur? Hubungan kita udah lebih dari setahun dan harus berakhir sampai sini? Aku ngga bisa kalo tanpa kamu..."
      Pertanyaan-pertanyaan kamu waktu itu membuat aku hampir menangis. Mataku sudah panas dan sebentar lagi butir-butir bening bening air siap jatuh. Tapi untuk waktu itu, hanya sekali itu, aku menahannya untuk kamu. Aku tidak ingin pertemuan terakhir kita rusak karena air mataku. Andai kamu tahu, malam sebelum hari itu aku sudah menumpahkan banyak air mataku untuk kamu, untuk kenangan kita, untuk bintang yang kita lihat bersama, untuk eskrim yang kita makan tiap hari minggu, untuk boneka kelinci yang kamu beri saat ulang tahunku, untuk setiap lagu yang kamu cipta untukku, untuk pelukanmu yang selalu kuatkan aku, untuk semua perhatian yang kamu beri tiap detik, dan untuk ribuan hal indah lain yang kamu lakukan hanya untukku.
      "Aku minta maaf karena ngelakuin ini sama kamu. Aku ngga bisa nepatin janji-janji yang dulu kita buat. Kalau harus milih, aku juga ngga mau ninggalin kamu. Tapi ini demi masa depan aku. Aku minta maaf.."
      "Tapi aku ngga bisa kalau ngga ada kamu!"
      Tiba-tiba kamu membentakku. Mungkin sebagai wujud putus asa dan kekecewaan kamu padaku, yang hanya bisa meminta maaf. Aku kembali menunduk. Aku rasa, tanpa perlu aku banyak bicara, kamu sudah mengerti bahwa memang ini yang terbaik untuk kita berdua. Bukankah sebelumnya kita sudah sering membicarakannya?
      "Kamu bisa sayang. Aku yakin kamu bisa tanpa aku. Kamu percaya kan? Kamu kuat. Kalau Tuhan mengijinkan, mungkin suatu saat nanti kita dipersatukan lagi. Kamu harus ingat, hanya karena kita terbiasa bahagia dengan seseorang, bukan berarti kita tidak bisa bahagia kalau tanpa dia."

Setelah berkata seperti itu, aku memelukmu dan meminta maaf untuk terakhir kali. Aku meninggalkan kamu yang terdiam dan terus saja memandangiku. 
      Aku tahu aku jahat. Tapi, waktu itu aku sama sakitnya dengan kamu. Siapa yang tidak sedih jika harus meninggalkan orang yang kita sayang? Tapi aku menyerah pada keadaan. Waktu itu aku belum siap jika harus menjalin hubungan yang terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh. Aku rasa hal itu tidak akan berhasil. Maka aku memilih untuk mengabaikan kamu yang terluka. 
      Kamu bilang bahwa kamu tidak akan bisa tanpa aku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku tahu hal itu tidak lagi berlaku. Siapapun, tidak ada yang siap untuk kehilangan seseorang yang berarti bagi dia. Tapi bagaimanapun juga, mau tidak mau, kita harus menerimanya. Rasa sakit adalah pembelajaran. Bila dalam suatu hubungan kamu masih sering bersikap egois, pemaksa, atau pemarah, setelah putus kamu harus belajar bahwa hal itu salah, bahwa mungkin karena hal itu hubungan kalian berakhir. Dan kamu harus menyadari bahwa hal itu salah dan mencoba untuk bersikap lebih baik lagi dalam hubunganmu yang selanjutnya. Bila sudah seperti itu, berarti kamu sudah  belajar :)
      
Finally, kamu bisa tanpa aku. Mungkin sekarang kamu sudah bisa tersenyum tanpa aku. Kamu mungkin sudah melupakan rasa sakitmu. Aku tahu kamu belajar dari hubungan kita dulu. Mungkin kamu sudah temukan seseorang yang baru saat ini. Ya, kamu bisa. Maka, selamat berbahagia! :)

With love, 
Dedott :*